KONFUSIUS


Sejarah Cina tidak bisa dipisahkan dari ajaran konfusius. Di tengah-tengah perubahan politik, ekonomi, dan sosial periode musim semi dan musim gugur serta negara-negara yang sedang berperang, pemikiran-pemikiran itu berkembang dengan cepat dan menghasilkan pemikiran-pemikiran terbaik pada masa itu yang menemukan sabilitas. Di antara yang merespon tantangan itu adalah banyak filsuf termasuk Konfusius dan murid-muridnya seperti Mencius dan Xunzi, kaum Legalis, Daois, dan lain-lain. Dari setiap aliran pemikiran datang dengan rencana dan metode reformasi masing-masing guna menghadapi masalah yang muncul pada era tersebut. Para filsuf ini berdebat dengan penuh semangat dan banyak ajaran-ajaran mereka kelak menjadi batu landas gerakan “Seratus Aliran” yang meninggalkan pengaruh kuat dalam budaya tradisional Cina.

Konfusius ini berasal dari seorang tokoh yang bernama  Kong Fuzi atau yang yang dikenal juga dengan Kong Zi yang berarti “Guru bermarga Kong”. Namun di         Barat jauh kenal dengan sebutan Konfusius. Konfusius atau Konghucu lahir disebuah negeri kecil Lu pada tahun 551 SM ini memiliki nama kecil Qiu atau Zhongni. Konfusius ketika berumur 3 tahun sang ayah meninggal dunia kemudian ibunya menyusul ayahnya ketika Konfusius berumur 17 tahun. Ketika usianya 15 tahun, ia telah banyak mempelajari segala hal dari berbagai buku yang ia baca.

Semasa mudanya Kong Fu Zi dikenal sebagai seorang yang bijaksana, sopan, dan senang belajar. Pada saat dia memegang jabatan pemerintahan ia sangat arif dan bijaksana. Sejak usia 50 tahun sampai usia 60 tahun mendapatkan promosi jabatan pemerintahan. Kong Zi atau Konfuisus ini pernah menduduki berbagai jabatan diantaranya sebagai Menteri Perkerjaan Umun dan Komisaris Polisi untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta Menteri Kehakiman. Sejak pengunduran diri Konfusius didalam jabatan pemerintahan, Konfusius lebih banyak berdiam dirumah untuk menerbitkan sebuah kitab puisi atau sajak. Ahli filsafat ini juga meluangkan waktunya untuk memberikan kuliah dan berbagi pengetahuan dengan murid-muridnya. Pengetahuan Konfusius tidak memandang miskin atau kaya, semuanya diberikan pelajaran yang sesuai dengan kemampuan Konfusius. Pada usia 67 tahun dia kembali ke tempat kelahirannya untuk mengajar dan mengabdikan tradisi-tradisi kuno melalui tulisan-tulisan. Konfusius wafat pada tahun 272 SM saat usianya 73 tahun.[1]

Konfusius merupakan sesorang reformer budi perketi yang memandang dirinya sendiri, tak diragukan lagi, sebagai individu yang kolot. Misi Konfusius yakni merehabilitasi adat leluhurnya terdahulu yang dalam kondisi memprihatinkan mulai dari ditinggalkan, namun usaha perbaikannya merupakan sebuah inovasi. Sebagai contoh ia menafsirkan kata “chun tzu”, yang berarti “manusia agung” mempunyai makna harfiah “orang yang agung”, dalam pengertian seorang manusia yang menghidupkan standar budi pekerti luhur. Pemahaman ini merupakan pengenalan suatu makna baru. Pembetulan kata-kata dari konfusius membuat masyarakat Cina untuk melirik sebuah teladan baru.[2]

II. Pemikiran Konfusius

Pandangan dasar dari Konfusianisme adalah bahwa kehidupan yang tertib, damai, dan bahagia merupakan impian setiap orang. Dalam kerangka itu, penguasa menjadi salah satu faktor kunci terwujud atau tidaknya cita-cita tersebut. Apabila dari penguasanya berkarakter zalim mau tidak mau masyarakatnya akan mengalami penderitaan dan tekanan yang diakibatkan dari sikap sang penguasa tersebut. Namun jika penguasanya berkarakter baik, melakukan kebajikan, memperhatikan rakyatnya dan lebih memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyatnya niscaya rakyat dipimpin tersebut akan hidup dengan ketentraman dan kesejahteraan.

Konfusius atau Kong Fuzi memandang suatu masyarakat sebagai suatu struktur. Setiap lembaga merupakan sub struktur yang memilki kewajiban tujuan struktur besarnya. Oleh sebab itu setiap sub struktur atau sub-sub struktur harus memahami kedudukannya di dalam keseluruhan struktur.

Ungkapan yang terkenal dari Konfusius adalah “Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai menteri, seorang ayah bersikap sebagai ayah, dan seorang anak bersikap sebagai anak.[3] Konfusius ini didasarkan pada pendidikan moral dari masing-masing individu sehingga dia selalu mendorong bahwa seseorang itu harus berbuat kebaikan. Dalam Lunyu, Konfusius menekankan ren yang artinya kebajikan. Arti dari ren itu sendiri adalah “Kasihilah sesamamu, jangan lakukan perbuatan terhadap orang lain apabila engkau tidak suka diperlakukan demikian” dan juga selain itu mengandung pengertian berupa keinginan untuk mengembangkan diri maupun sesama kita. Konfusius juga membahas mengenai Li yang dapat di artikan tata krama atau adat istiadat. Arti Li pada mulanya merupakan arti “berkorban” yang mana mengalami perluasan makna menjadi upacara adat istiadat pengorbana pada leluhur sebagaimana telah dilakukan oleh kaisar. Kemudian makna Li juga mencakup bagaimana tata cara basa basi dan panduan prilaku bagi kaum bangsawan.

Konfusius beranggapan bahwa Li dan kebajikan itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menurut Konfusius definisi kebajikan adalah “menguasai diri serta mengikuti adat istiadat adalah berbuat baik. Jika tidak sesuai dengan adat istiadat jangan pernah didengarkan, jika tidak sesuai dengan adat istiadat jangan diucapkan, jika tidak sesuai dengan adat istiadat jangan dilakukan, “Selama orang tuamu masih hidup taatilah adat istiadat dalam menguburkan mereka”, taatilah adat istiadat dalam memberikan persembahan kepada mereka”. Meskipun Konfusius sangat menghormati adat istiadat namun akan tetapi konfusius juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat kepada adat istiadat. Dia pernah mengatakan bahwa dia tak akan pernah ragu untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan adat istiadat  asalkan alasan penyimpangan tersebut didasarkan alasan yang masuk akal dan sopan santun.

Konfusius mengajarkan kepada murid-muridnya untuk lebih dahulu memahami kehidupan dan hubungan dengan sesama manusia sebelum membahas hal-hal yang mengenai metafisika. Konfusius mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial meskipun dalam batasan-batasan tertentu tidak selamanya demikian. Masyarakat dibentuk oleh masyarakat dan sebaliknya masyarakat dibentuk oleh orang yang membentuknya. konfusius mengajarkan bagaimana cara hidup dengan mengharagai alam dan manusia. Konfusius mengajarkan untuk menjadi patuh. Namun, kepatuhan itu sendiri tidaklah buta. Kepatuhan yang masih dalam koridor kemandirian. oleh karena itu, setiap orang harus belajar. Belajar itu tidak hanya dengan mendengar, tetapi harus melakukannya. Dengan demikian terdapat hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Konfusius juga membicarakan tentang dao yang mana kata ini diterjemahkan sebagai “jalan” atau “cara”. Konfusius mengartikan kata dao bukan dalam  artian mistik melainkan sebagai suatu jalan yang harus diikuti umat manusia Li yang mencakup adat istiadat dan tata krama. Konfusius juga mengajarkan Zhong (peduli orang lain, setia), Shu (tenggang rasa), Tianming (jalan langgit), Zhiguo (memerintah), Tertib Sosial, Junzi, Xiao (bakti anak kepada orang tua)

Konfuisus berpendapat bahwa pendidikan tidak hanya di lembaga resmi saja namun pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan dan pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Melalui pengamatan langsung menuntut kemampuan untuk berpikir kritis bila menemukan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Ajaran Konfusius terbuka terhadap sesuatu yang baru sehingga tidak menuntut kemungkinan terjadinya suatu perubahan-perubahan setiap norma dan tradisi apabila telah menyimpang dari tujuan semula.

Konfusius menekankan tiga pilar ajaran yang harus dilakukan oleh para muridnya. Ketiga pilar tersebut adalah ritual, pendidikan, dan keluarga. Ritual termasuk upacara-upacara menghormati para leluhur karena tak akan ada masa kini tanpa masa lampau, upacara kematian, cara-cara berpakaian, makan yang abik, hingga memperlakukan tamu dengan hormat.[4]

Di bidang pemerintahan kecenderungan Konfusius cenderung berpikir dengan menempatkan rakyat sebagai objek, hal ini menyebabkan sebagian besar perhatian Konfusius tertuju pada usaha mencari cara agar penguasa memperoleh dukungan rakyat. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan bahwa dukungan rakyat akan diperoleh apabila sang penguasa mengembangkan kebajikan dan memerangi kejahatan.

Di bidang pendidikan, Konfusius mengajarkan untuk selalu berpikir dengan matang sebelum melakukan sesuatu. Sementara itu, keluarga merupakan tempat pertama untuk belajar bagaimana saling menghormati dan menghargai. Ajaran Konfusius yang begitu luas dan melingkupi seluruh tata kehdipan itulah yang membuatnya masih memainkan peran yang sangat penting hingga kini dalam kehidupan masyarakat Cina.

Aliran filsafat di Cina sangatlah berbeda dengan aliran filsafat yang berkembang di Yunani dalam hal bidang yang dipelajari. Sejak awal terutama dengan kehidupan sehari-hari dan hanya dengan ilmu pengetahuan dan masalah metafisika. Filsafat Yunani memperdebatkan masalah ilmu pengetahuan dan metafisika sedangakan aliran filsafat Cina yaitu Konfusius lebih mengorientasikan dan tertarik kepada manusia sebagai bagian dari suatu masyarakat daripada manusia sebagai suatu individu dan sebagai makhluk intelektual.[5]

Konfusius di Jepang memiliki arti penting yang lebih dari sekadar gerakan religus yang berdiri sendiri. Kepercayaan ini telah menembus ke dalam kesadaran dan adat kebiasaan masyarakatnya.

Konsep-konsep dasar seperti kesetiaan (chu) dan kepatuhan pada orang tua (ko).etika praktis dalam Budha maupun dalam sekte-sekte Shinto pada dasarnya berasal dari konfusius, hampir semua gerakan agama baru pada masa Tokugawa mendapat pengaruh yang kuat dari konfusius. Ajaran konfusius mengenai keutamaan kesetiaan secara luas tersebarkan dan berdampak cukup fenomenal dalam perkembangan etika kelas prajurit (ksatria) yaitu Bushido di Jepang.[6]

III. Hasil Karya Pemikiran Konfusius.

Konfusius menulis sebuah kitab yaitu Xiaojing, selain kitab itu para ahli tidak yakin bahwa kitab tersebut ditulis oleh Konfusius namun para penganut konfusius meyakini kitab-kitab tersebut merupakan asli hasil dari karangan Konfusius itu sendiri. Sedangkan kitab-kitab sekarang merupakan penghimpunan kembali oleh Zhu Xi yang merupakan ahli filsafat Konfusius. Kitab-kitabnya yaitu:

  • Zhouyi, berasal dari kitab Yijing dan Yizhuan yang digabung dengan satu.
  • Shijing, catatan nyanyian-nyanyian pada zaman dinasti Zhou.
  • Shujing atau Shangshu, catatan-catatan politik dinasti Zhou dan zaman sebelumnya.
  • Zhouli, mencatat sistem pemerintahan dan organisasi Negara pada zaman dinasti Zhou.
  • Yili, adat istiadat para bangsawan.
  • Cunqiu Zhouzhuan, buku sejarah Negara bagian Lu yang dikarang oleh Zhou Qiu Ming.
  • Cunqiu Gonyang Zhuan yang dikarang oleh orang kerajaan bernama Gong Yang Zi.
  • Cunqiu Kailiang Zhuan dikarang oleh murid Zi Xia (muridnya konfusius juga yang akhirnya menganut fajia yaitu Ka Liang.
  • Lunyu pada awalnya itu bukan disebut Lunyu yang sekarang ini dirangkai kembali oleh Zhang Yi Yang yang berdasarkan dari kitab Jilun dan Lulun. Sering disebut Zhang Hou Lun.
  • Mengzi, buah karya Meng Zi sarjana Konfusiusanis terkemuka
  • Xiajing yang diyakini karya konfusius.
  • Erya buku-buku syair yang dipercaya dibuat Zhou Gong.
  • Liji membahas mengenai kebajika  dan adat istiadat. Diyakini di catat dan dikumpulkan oleh 70 murif konfusius. Yang dadalamnya terkandung kitab Dexue Zhongyong.[7]

Tema utama dari ajaran-ajarannya yaitu Li (ritual), Ren (Kebajikan), Zhong (peduli orang lain, setia), Shu (tenggang rasa), Tianming (jalan langgit), Zhiguo (memerintah), Tertib Sosial, Junzi, Xiao (bakti anak kepada orang tua)[8]

Catatan Kaki :


[1] Ivan Taniputera. History Of China. 2009. Yogyakarta: Ar Ruz Media. Hlm. 100.

[2] Arnold Toynbee. Sejarah Umat Manusia. 1974. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm.  243.

[3] H. Purwanta. Sejarah Cina Klasik. 2009. Yogyakarta : Univeristas Sanata Dharma. Hlm. 100

[4] http://www.gogle:Anneahira.com. Di akses  pada tanggal  3 Maret 2012. Pukul: 14.00.

[5] Arnold Toynbee. Sejarah Umat Manusia. 1974. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. 293.

[6] Robert N. Bellah. 1992. Religi Tokugawa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 116-120.

[7] Ivan Taniputera. History Of China.2009. Yogyakarta: Ar Ruz Media. Hlm. 103.

[8] Tan Ta Sen. Cheng Ho Penyebar Islam dari China Ke Nusantara. 2010. Jakarta: Kompas. Hlm. 40.

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di pemikiran. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s