Melawan arus pemikiran

Hassan Hanafi, Soroush, Nasr Abu Zeyd, dan intelektual muslimprogressive lainnya diusir dari negara mereka karena melakukan dua kesalahan, yaitu berani berbeda dan berani mengekspresikan pendapat yang melawan arus. Mereka dicaci maki, dituduh sesat, dan lain sebagainya –sesuatu yang juga terjadi pada ilmuan-ilmuan masa awal renaissance Eropa. Lalu mereka hijrah ke negara-negara barat. Alasannya karena di negara-negara barat ide sekonyol atau segila apapun dihargai. Mirip dengan semangat Voltaire “Saya tak setuju dengan yang anda katakan, tapi saya rela menyerahkan nyawa saya untuk membela bahwa anda berhak mengatakan ide anda itu”. Tentu saja orang-orang yang mengusir mereka akan berkata “negara-negara kafir itu memang suka sekali menerima orang-orang nyeleneh seperti itu. Merekalah yang mengobok-ngobok Islam dari dalam”.

Beberapa abad lalu juga ada seorang intelektual yang diusir dari negaranya. Namanya Maimonides, beragama Yahudi. Dia juga dicaci maki serta dicap sesat. Bedanya kali ini ia lari ke Kordoba, sebuah wilayah Islam yang saat itu sangat pluralis – mirip dengan negara barat sekarang (katanya) –dan mewarisi banyak nilai seni, budaya, filsafat, juga ilmu pengetahuan. Bukan cuma Maimonides, banyak seniman dan intelektual yang beragama Kristen dan Yahudi berimigrasi ke Kordoba, karena di negara pluralis  Islam itu mereka bebas menciptakan karya-karya mereka. Tentu saja, orang-orang yang mengusir mereka juga akan mengatakan “negara kafir itu (Islam kordoba) memang suka sekali menerima orang-orang nyeleneh seperti mereka. Merekalah yang mengobok-ngobok agama kita dari dalam”. Sejarah memang bisa terulang, tapi pemainnya berbeda. Kali ini yang berperan menjadi Cordoba Islam adalah negara-negara barat, dan yang bersikap seperti pengecut intelektual Yahudi dan Kristen adalah kita.

Untuk bisa bangkit, kita harus punya etos iqra yang sudah hilang itu dan iklim kebebasan berpikir. Kita harus menciptakan sebuah kondisi untuk memunculkan zaman pencerahan (enlightenment era) bagi Indonesia ke depan. Dimana dalam zaman pencerahan nanti yang muncul bukan seorang guru bangsa ataupun wali  yang akan di setengah-kultus dan di taklid  kan, melainkan sebataliyon pemikir, penulis, ekonom, ilmuan, filosof, pengusaha, seniman, dan olahragawan yang akan mengubah iklim Indoesia secara keseluruhan. Kita membutuhkan sebuah revolusi industri kreatif, booming enterpreneur, seorang Copernicus tanpa lembaga agama yang akan membakarnya, seorang Galileo tanpa pemuka-pemuka agama yang membungkam pendapatnya dengan paksa, dalam politik kita membutuhkan seorang John Locke, Voltaire, dan Montesquieu dengan iklim kebebasan mengkritik pemerintah tanpa tekanan para preman, namun pada sisi lain memberikan sebuah ide tentang pemerintahan yang lebih baik. Jadi bukan hanya tukang protes pemerintah yang sekarang sedang menjamur di sekitar kita.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara melahirkan suatu kondisi demikian? Jawaban gampangnya adalah melalui pendidikan. Kita belum maju memang karena sistem pendidikan kita payah.

Pemikir yang baik adalah pembaca yang baik. Untuk melahirkan sebataliyon intelektual, harus diciptakan dulu masyarakat yang gila baca. Dan masyarakat mahasiswa kita masih malas membaca, apalagi membaca buku-buku berat seperti filsafat dan sastra dunia. Namun membaca saja tak cukup, banyak orang membaca secara dogmatis. Misalkan ada mahasiswa yang membaca Karl Marx layaknya sedang membaca kitab suci. Semua yang tertulis ditelan bulat-bulat. Lalu ia menjadi marxis dan dengan bangga mengaku jadi “kiri”. Ini sama saja dengan orang membaca Quran lalu bertemu dengan ayat yang isinya perihal memerangi kaum kafir, ia langsung mengambil parang kemudian membunuh semua non-muslim yang ia temui di jalan. Oleh karena itu diperlukan keterampilan berpikir kritis. Yang dimaksud kritis di sini bukan sikap menegasikan atau menentang segala hal, melainkan suatu keterampilan menganalisa bacaan. Seperti  menganalisa propaganda tersembunyi dalam teks, bias subjektivitas pada pendapat-pendapat pengarang, membedakan serta meneliti kecocokan antara argumentasi dan fakta, dan sebagainya. Secara singkat, berpikir kritis adalah kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengevaluasi argumen serta klaim-klaim kebenaran (subyektif,red)

Sayangnya, keterampilan berpikir kritis ini tidak dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia pada umumnya. Dan universitas memang tidak pernah mengajarkan mereka skill berpikir kritis. Inilah salah satu perbedaan antara pendidikan mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa di luar negeri, misalnya di Amerika Serikat. Bila kita perhatikan kurikulum Amerika Serikat untuk mahasiswanya, setiap mahasiswa baru dilatih untuk membaca kritis dan menulis argumentasi. Ide-ide orisinal sangat dihargai. Beda dengan disini, bahkan pernah ada seorang dosen yang menganggap bahwa sebuah tulisan bernilai ilmiah bila tulisan itu dipenuhi oleh pendapat orang-orang hebat. Padahal, pendapat orang lain dikutip untuk menguatkan pendapat pribadi sang penulis.

Setelah memiliki kebiasaan membaca dan keterampilan berpikir kritis, sekarang diperlukan keterampilan menulis. Singkatnya, penulis yang baik adalah pemikir yang baik, dan pemikir yang baik adalah pembaca yang baik. Masalahnya, mahasiswa-mahasiswa Indonesia masih menganggap menulis adalah sebuah bakat atau hobi bahkan sebagai profesi, bukannya suatu keniscayaan intelektual.

Kejayaan Islam secara Historis   bukan terletak  kepada sistem pemerintahan/politik yang dibangun, tetapi kemashyuran daulah abbasiyah,Umayyah,Fatimiyah,Utsmani, dsb itu berawal dan terletak kepada tajamnya pena yang mereka tebaskan dalam lembaran kertas, bukankah Tuhan menciptakan kehidupan dengan menuliskannya berupa pena (qolamun) yang dimana Ia mampu menuliskan dari awal hingga akhir kehidupan ini.

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di pemikiran. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s