RELASI ANTAGONISTIK ORIENTALIS DAN ISLAM


Kajian tentang Timur (orient) termasuk tentang Islam, yang dilakukan oleh orang Barat telah bermula sejak beberapa abad yang lalu. Namun gerakan pengkajian ketimuran ini diberi nama orientalisme baru di abad ke 18. (the oxford English dictionary, oxford, 1933, vol. VII, hal. 200).[1]

Mengapa Barat tertarik mengkaji Timur dan Islam, latar belakang sejarahnya panjang dan kompleks. Pertama adalah motif keagamaan. Barat yang disatu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-doktrinnya. Islam yang isinya menyempurnakan millah sebelumya tentu banyak melontarkan koreksi terhadap agama itu. Itulah makanya Islam dianggap “menabur angin” dan lalu “menuai badai” perseteruan dengan Kristen.

Bahkan lebih ekstrem lagi, perseteruan ada sejak sebelum Islam datang. Thomas Right, penulis buku Early Christianity  in Arabi, mensinyalir perseteruan antara Islam dan Kristen terjadi sejak bala tentara Kristen pimpinan Raja Abrahah menyerang Ka’bah dua bulan sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Di situ tentara Abrahah kalah telak dan bahkan tewas.[2] Kalau saja tentara itu tidak kalah mungkin seluruh jazirah itu berada di tangan Kristen, dan tanda salib sudah terpampang di Ka’bah. Muhammad pun mungkin mati sebagai pendeta. Jika Right benar, berarti orang Kristen sendiri telah lama menentang millah Nabi Ibrahim, sebab ketika mereka menyerang Ka’bah, mereka bukan sedang menyerang Islamdibawa Nabi Muhammad SAW, melainkan menyerang Ka’bah yang mepakan khazanah millah Ibrahim, Bapak Agama Tauhid itu. Jadi motif orientalisme adalah keagamaan dan berkaitan dengan Krristen dan missionarisme.

Kedua, motif politik. Islam bagi barat adalah peradaban dimasa lalu telah tersebar dan menguasai peradaban dan menguasai peradaban dunia dengan begitu cepat. Barat adalah sebagai peradaban yang baru bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai ancaman lansung yang besar bagi kekuasaan politik dan agama mereka. Barat sadar benar bahwa Islam bukan sekedar istana-istana megah, bala tentara yang gagah berani atau bangunan-bangunan monumental, tetapi peradaban yang memiliki  khazanah dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Oleh sebab itu mereka perlu merebut khazanah ini untuk kemajuan mereka dan sekaligus untuk menaklukkan Islam. Sudah tentu itu semua dilakukakan dengan cara-cara yang tidak fair. Motif politik ini kemudian berkembang menjadi motif bisnis atau perdagangan yang kemudian menjadi kolonialisme.[3]

Ketiga, agama yang dianut oleh bermacam-macam golongan yang mempunyai ras yang berbeda pula, sehingga cukup menarik untuk meneliti kehidupan keagamaan, intelektual sosial dan pola hubungan mereka dengan masyarakat luar baik yang seagama atau lain agama dengan mereka, sehingga penelitian kaum orientalis dalam memandang Islam bisa dikatakan ilmiah dan penuh manfaat, hal ini juga didukung oleh beberaapa pandangan orientalis yang mengaku Nabi Muhammad salah seorang nabi terdahulu.[4] Sehingga pandangan minor terhadap orientalis mulai kian memudar.

Kajian orientalis merupakan hasil dari pengalaman panjang manusia Barat dalam menghadapi Timur, khususnya Islam. Oleh sebab itu ada baiknya kita telusuri secara singkat fase-fase perkembangan orientalis untuk mengetahui bagaimana dengan motif dan framework yang sama mereka menggunakan teknik dan metode yang berbeda-beda.

 

  1. Kalau diteliti secara serius oreintalisme bisa dibagi empat fase penting :

Fase pertama, dimulai pada abad keenambelas (abad ke-16) Masehi. Pada fase ini orientalisme dapat dikatakan sebagai gerakan anti Islam yang dimotori oleh Yahudi dan Kristen. Selain bangsa Eropa Kristen dalam perang salib juga memicu semangat anti Islam ini.

Islam itu, bagi Kristen, merupakan simbol teror, perusak dan barbarian. Bagi orang Eropa Islam adalah trauma yang tak pernah berakhir. Southern dalam bukunya Western Views of Islam in the Middle Ages, menulis bahwa “orang Kristen ingin agar Timur dan Barat bersepakat bahwa Islam itu adalah Kristen yang sesat (misguided version of Christianity)” (hal. 91-92, 108-109).[5] Bahkan tidak sedikit yang menulis bahwa Nabi Muhammad adalah penyebar wahyu palsu, tokoh penipu, tidak jujur, pelaku sodomi, dan seabagainya yang kesemuanya itu diambil dari doktrin keagamaan yang dibawanya.[6]

Fase kedua orientalis terjadi pada abad ke-17 dan 18 M. Fase kedua ini adalah fase penting Orientalisme, sebab ia merupakan gerakan bersamaan dengan modernisasi barat. Barat berkepentingan menimba ilmu bagaimana Islam bisa menjadi peradaban handal selam 7 abad. Pada periode inilah raja-raja dan ratu-ratu di Eropa sepakat untuk mendukung pengumpulan segala macam infomasi tentang ketimuran.

Meskipun Barat memerlukan Islam, tapi api perseteruan masih tetap membara. Maka dari itu selain mengumpulkan informasi tentang di Timur mereka juga menyebarkan informasi negatif tentang timur kepada masyarakat Barat. Pada periode ini misalnya, banyak diterbitkan buku-buku yang banyak menghujat Islam daripada memaparkan apa adanya, seperti John Wansbroug yang mempermaslahkan keautentikan Al-Quran bukan wahyu tuhan tapi buatan Muhammad.[7]

Tapi pada tahun 1679 Humphrey Preideaux menulis sejarah hidup Nabi Muhammad, tapi buku itu berusaha membuktikan asumsinya bahwa Nabi Muhammad pandai berpura-pura, pandai mengelabuhi orang, penipu dan cerdik. Buku ini seperti dijadikan referensi standar orientalis lama selama seabad lebih. Singkat kata, jika pada fase pertama diwarnai oleh semangat anti Islam, maka periode ini adalah periode caci-maki orientalis terhadap Islam dalam bentuk tulisan.

Fase ketiga orientalis adalah abad ke-19 dan seperempat pertama abad ke-20. Fase ini adalah orientalisme terpenting baik muslim maupun bagi orientalis sendiri. Sebab pada fase ini adalah Barat telah benar-benar menguasai negara-negara Islam secara politik, militer, kultural dan ekonomi. Pada fase ini banyak orientalis yang banyak menyumbangkan karya dalam bidang studi Islam. Tidak sedikit pula karya-karya berbahasa Arab dan Persia yang diedit, diterjemahkan dan lalu diterbitkan. Mungkin karena Barat telah masuk dan memasuki negeri-negeri Islam, mereka mudah mendapatkan bahan-bahan tentang Islam.[8]

Oleh sebab itu, pada waktu yang hampir bersamaan lembaga-lembaga studi ke-Islaman dan ketimuran didirikan dimana-mana. Seperti, The Institute of Islamic Studies, McGill University, Departement of Toronto dan Islamuic Studies, Von Grunebaun Centre for Near East Studies, University of California Los Angels.[9] Tahun 1822 di Paris  didirikan Society Asiatic of Paris, Royal Asiatic Society of Great Bretain and Ireland didirikan tahun 1823 di Inggris, tahun 1842 di Amerika juga didirikan American Oriental Society, tahun 1916 di University of London, didirikan School of Oriental Studies sekarang menjadi SOAS (School of Oriental And African Studies). Diantara tokoh orientalis yang terkenal pada periode ini adalah Goldzhiher(1850-1908).[10]

Dengan berdirinya pusat-pusat studi ke-Islaman maka framework kajian orientalis mengalami pergeseran yang signifikan, dari fase caci-maki menjadi penilaian yang sistematis dan ilmiah itu tidak berarti tanpa kesalahan dan bias. Para orientalis di abad pertengahan  memang memiliki informasi yang kurang tentang Nabi Muhammad, sehingga tulisan mereka bernada negatif. Namun para orientalis di zaman modern dianggap telah memiliki pengetajuan Islam yang relatif lebih banyak, namun masih saja ada yang bersikap negatif tapi dengan cara yang lebih akademis, bahkan dr. Ach. A. Hamid Ghurab, mengatakan orientalis modern telah berubah seratus  persen yaitu mempunyai sifat jujur dan berdasarkan penelitian objektif, di samping sebagai rekan yang saling menghormati.[11]

Fase Keempat orientalis ditandai  dengan adanya perang dunia ke II khusus di Amerika Islam dan umat Islam menjadi obyek kajian yang popular. Kajian itu bukan saja dilakukan untuk kepentingan akademis, tapi juga untuk kepentingan perancang kebijakan politik dan juga bisnis.

Sekali lagi pada fase ini kajian orientalisme berubah lagi, dari sentimen keagamaan vulgar menjadi lebih lembut. Cantwell Smith terang-terangan mengatakan “pencarian ilmu selalu siap mengubah hypotesisnya. Faktanya memang orang-orang Barat non-Muslim baru saja mulai memperlembut (ssikapnya terhadap Islam) dan bahkan menarik kata ‘tidak’nya”[12]. Sir Hamilton Gibb secara diplomatis mengatakan, ia menerima pendapat bahwa wahyu adalah gambaran pengalaman pribadi Nabi Muhaamad, tapi Islam perlu menafsirkan kembali konsep yang tidak bisa dipertahankan lagi itu.[13] Perubahan sikapnya begitu kentara, barubah dari menuduh Nabi sebagai penipu, mereka kemudian mempersoalkan konsep wahyunya, dan kini mereka mulai mempersoalkan interpretasinya.

Anwar al-Jundi dalam bukunya al-Fikr al-Arabi al-mu’ashir fi ma ma’rakat al-Targhib (al-Risalah), Kairo, tt 133-137), mengatakan para orientalis itu pertama-tama menentukan tujuan. Kemudian untuk membuktikan proposisi mereka, mereka mengumpulkan berbagai data, seperti teks-teks keagamaan, cerita-cerita fiksi, syair-syair, kisah-kisah dan lain-lain yang otentik ataupun yang tidak dan kemudian menafsirkan sesuai dengan tujuan mereka itu. Proposisi ini digunakan untuk membuat teori-teori “baru”.[14]

Framework di atas hanyalah salah satu dari sekian framework kajian orientalis. Berbeda bidang kajian, berbeda pula frameworknya dan berbeda periode, berbeda pula teknik dan metode kajiannya. Mulanya mereka hanyalah suatu circle yang memiliki semangat anti Islam dalam perkembangan nuansa anti-Islamnya lalu dikurangi dan diganti dengan pendekatan yang menggunakan logika.

Montgomery Watt yang dianggap orientalis moderat misalnya, ketika menulis Al-Quran dan al-Sunnah mencoba meragukan otentitas Islam. Ia mencoba membuktikan bahwa beberapa bagian al-Quran dan hadis itu dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karma itu tidak bisa dijadikan pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya “ayat-ayat setan” dalam al-Quran.[15]

Jadi, orientalisme yang dikenal saat ini sebagai tradisi ilmiah tentang Islam, sejatinya adalah berdasarkan pada ‘kacamata’ dan pengalaman manusia Barat yang dipicu oleh motif dan semangat missionaries. Namun motifasi ini ditutupi dengan dengan jubah intelektualis dan dedikasi akademik.[16] Tidak heran jika salah pandang dan tujuannya diwarnai oleh latar belakang agama dan politik serta world view Barat atau nilai-nilai peradaban Barat, kajian mereka itu cenderung salah, inilah bukti bahwa ilmu memang tidak bebas nilai.

Oleh sebab itu menganggap orientalis di masa kini  obyektif dan ilmiah hanya benar di permukaan, kajian akademis dan ilmiah terhadapnya membuktikan sebaliknya. Cara pandang mereka terhadap Nabi, al-Quran dan Islam sebagai agama masih tidak bisa lepas bebas dari pengaruh para pendahulunya, yang menurut Edward perbuatan mereka sangat keji dan sama seperti ketika mereka memusuhi Islam pada abad pertengahan dan era kebangkitan.[17]  Para orientalis terdahulu itu diwarnai oleh pengalaman manusia Barat. Framework kajian filsafat para orientalis, misalnya, malah tidak pernah bergeming dari asumsi bahwa Islam tidak memiliki filsafat. Framework kajian filsafat orientalis dalam kajian filsafat menunjukkan konsistensi framework dan kajian mereka pada hakikatnya filsafat Islam berasal dari Yunani, sebab ia tidak ada akarnya dalam tradisi intelektual Islam. Hal ini dapat dicermati dari pernyataan Peter bahwa filsafat Islam tercermin dari asal-usul nama yang digunakan, yaitu nama Yunani, lebih jauh ia mengatakan bahwa dalam Islam tidak ada filsafat.[18]

Kajian yang sejatinya satu bidang dengan filsafat adalah teologi atau kalam. Dalam bidang ini para orientalis sangat intensif mengadakan kajian, sebab bidang ini konon banyak memberi sumbangan bagi perkembangan teologi Kristen. Meskipun begitu, mereka tidak mengakui bahakan mengkalaim bahwa teologi Islam adalah lanjutan atau dipengaruhi oleh perkembangan teologi Kristen. Selain itu tujuan mereka juga tidak bisa ditutupi  sebab dengan menggunakan pendekatan tersendiri mereka ternyata mengedapankan kelompok-kelompok sempalan yang tidak populer. Ini tentu bertujuan untuk menyembunyikan teologi yang sempurna sejak awalnya dan tetap dipahami oleh mayoritas pemeluknya secara konsisten hingga kini.

Kajian orientalis belum mencakup keseluruhan bidang. Namun perlu disadari bahwa kajianoutsider tentang suatu agama dan peradaban termasuk Islam, ia tetap menyisakan bias. Al-Tibawi, menyimpulkan bahwa ketika para orientalis ahli polemik periode awal  terlibat dalam pembinaan dan penafsiran  yang salah tentang Islam, tujuan mereka desturtif. Tetapi setelah adanya motif missionaris, mereka mulai menggunakan pendekatan obyektif. Metodenya merupakan campuran antara penghinaan dan pengungkapan hal-hal negatif  tentang Islam, namun dengan menggunakan fakta-fakta yang solid tapi tetap dipahami dalam perspektif Kristen. Metode yang pertama  telah ditinggalkan sedangkan metode yang kedua menjadi lemah atau diberi baju baru. Perkembangan terakhir yang aneh adalah ketika para orientalis itu kini gencar menyarankan, mendorong dan bahkan kasarnya memprovokasi agar Islam ada renofasi.[19]

Kajian dan sekaligus serangan terhadap Islam dan sejarahnya sangat canggih dan subtil bagi mereka pembawa awam, alias bukan pakar. Akibatnya para pembawa awam tidak mudah untuk membongkar implikasi-implikasi negatifnya. Pernyataan mereka itu umumnya berdasarkan spekulasi, bahkan manipulasi sumber data dan seringkali bersikap selektif terhadap data-data sejarah dengan tujuan dan kepentingan tertentu.

Edward Said baik dalam orientalisme (1978) maupun dalam  the world, the text and the critic (1983) yakin bahwa orientalis dan Barat adalah diskriminatif. Batas rasial, dan kultural dan bahkan saintifik sangat kentara. Antara “kami” dan “mereka”, minna dan minhum merasuk ke dalam kajian sejarah, linguistik, teori ras, filsafat, antropolgi dan bahkan biologi hingga abad ke-19. Jadi sangat pantas stigma “other”  itu melekat, maka selain bangsa Eropa tetap asing dan bahkaninferior. Kajian Timur yang berasaskan Barat telah di frame oleh pengalaman imprealisme dan persengketaan kultural (cultural hostility).

Selain dari itu pandangan dan kritik orientalis mendasarkan kajian mereka sangat secara spesifik. Artinya, jika mereka  mengkaji bidang tertentu, mereka melewatkan bidang kajian yang lain. Orientalis  ahli fiqih melontarkan kritik-kritik yang tidak dikaitkan dengan kalam misalnya kritik dalam bidang filsafat tidak dikaitkan dengan akidah, kritik dan kajian al-Quran tanpa disertai tafsir, bahkan tidak aneh jika para orientalis mengkaji al-Quran dengan metodologi Bibel, mengkaji politik Islam dalam perspektif politik Barat sekuler dan seterusnya. Yang pasti, disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam itu tidak dikaji dengan framework pandangan hidup Islam, tapi Barat.

Meski telah banyak kajian orientalisme, tapi dalam perkembangan pemikiran akhir-akhir ini, tema orientalisme ini menjadi semakin relevan untuk diangkat kembali. Sebab kini tren mengadopsipandangan, framework dan kritik-kritik para orientalis tentang Islam sedang semakin marak dikalangan sementara cendikiawan muslim. Nampaknya mereka berfikiran bahwa dengan cara itu mereka bisa mengambil jalan pintas untuk “reformasi”, “pembaharuan” atau “liberalisasi” pemikiran Islam. Bagi masyarakat awam atau ulama “tradisional” pemikiran hasil “adopsi” itu nampak baru, karena tidak pernah ada dalam khazanah intelektual Islam. Padahal, sifat “baru”nya tidak mempunyai unsure tajdid, karena terlepas dari pondasi asalnya (wahyu Allah) dan bahkan seringkali bersebrangan. Para cendikiawan muslin itu mungkin telah gagal menyelami kekayaan intelektual Islam secara komperhensif, kreatif dan apreseatif sehingga kehilangan daya kritis mereka terhadap orientalis dan Barat.

 

2. KLASIFIKASI TOKOH ORIENTALIS DAN DAMPAK POSITIF KARYA MEREKA

 

Namun tidak dapat dihindari dari sekian banyak kajian orientalis yang penuh interest itu masih ada yang bisa dimanfaatkan. Buku-buku leksikon, ensiklopedi, kamus-kamus, koleksi-koleksi manuskrip, sejarah, terjemahan dan takhrij manuskrip dan sebagainya sangat bermanfaat untuk menambah informasi kita, sumbangan mereka dalam mengedit manuskrip kuno Islam patut untuk dihargai. Sikap kita seharusnya, tidak belajar Islam dari orientalis tapi hanya belajar aspek-aspek Islam tertentu dari mereka, termasuk metode yang mereka pakai, sebagai bekal keilmuan kita dalam rangka meningkatkan sumber daya umat Islam.

 

A. Orientalis  Berbahaya dan Karya-Karyanya.

Beberapa tokoh orientalis yang banyak menghujat Islam antaranya :

1.      A. J. Arberry berkebangsaan Inggris terkenal sangat fanatic menentang Islam dan kaum muslimin, ia adalah salah seorang anggota ensiklopedi Islam dan seorang dosen Universitas Camridge, karya-karyanya :

–         Islam Kini, tahun 1943.

–         Pandangan Sejarah Tasawwuf, 1947.

–         Terjemah al-Quran, 1950.

2.      Alfred Geom, berkebangsaan Inggris, dosen Universitas Inggris dan Amerika, ia seorang missionaris, bukunya Islam.

3.      Barron Carra de Vaux, berkebangsaan Prancis, dia punya andil dalam penulisan Ensiklopedi Islam.

4.      H.A.R. Gibb, orientalis Inggris dianggap paling besar abad ini, anggota majma’ Lughawi di Mesir dan dosen matakuliah studi Islam dean Arab di Universitas Harvard, karyanya cukup banyak diantaranya :

–         Jalan Islam, diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul Thariqah Islam.

–         Islam dan Masyarakat Arab,

–         Madzhab Muhammad

–         Al- Ijtihad al- hadithsah fil Islam, 1947.

5.      Ignaz Goldzhiher, orientalis Hunggaria, dia menulis tentang al-Quran dan Hadith, termasuk sejarah madzhab-madzhab tafsir al-Quran.

Yang masih banyak lagi kaum orientalis yang sering menyudutkan Islam.

 

Para orientalis yang jujur.

1.      E. Renan penulis Sirah Ibn Hikam

2.      Thomas Aryle, memasukkan Nabi dalam kelompok pahlawan, menulis buku Al-Abthal

 

Catatan Kaki :

[1] The Oxford English Dictionary,  Oxford 1993, Vol. VII, hal 200.

[2] Thomas Right, EarlyChristian in Arabia,  Oxford University, 1987.

[3] A. Mannan Bukhari, Menyikap Tabir Oreintalisme, Amzah, Jakarta, 2006, 104-104.

[4] Thoha Hamim, Islam dan NU di bawah tekanan problematika kontemporeer, Di antara,Surabaya,2004,271.

[5] Southern, R, W. Westrn Views of Islam In the Middle Ages, Harvard Up, 1926, hal 91-92, 108-109

[6] Norman Daniel, Islam and the West, London, 1898.

[7] Hon Wansbroug, Quranic studies: Its genesis and Historical Interpretatio, Oxford University Press, 1977.

[8] A. MAnnan, Menyikap Tabir Orientalisme, Amzah, Jakarta, 2006, 101-103.

[9] Thoha Hamim, Islam dan NU: di bawah Tekanan Problematika Kontemporer, di antara, Surabaya,2004,271.

[10] Goldzhiher adalah seorang orientalis yang banyak melakukan kritik Hadith terhadap periwayatan terutama Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dan juga sering melakukan kritik terhadap metode penafsiran dengan melihat latar belakang para penafsir, Madzhab Tafsir, Terj Alaik Salamullah, elSAQ Press.

[11] Achmad Abdul Hamid Ghurab, Ru’yah Islamiyah Lil Isttisyrak, terj, Pandangan Islam Terhadap Oreintalisme, Pustaka Al-Kausar, Jakarta 1993, 66

[12] On Understanding Islam-selected Studies, the Hague, 1981, 269).

[13] Sir Hamilton Gibb, Pre-Islamic Monotheism in Arabia, Harvard Theological Review, 55, 1962) lihat juga, Muhammadisme, 1947.

 

[14] Anwar al-Jundi, al-Fikr al-Arabi al-mu’ashir fi ma’rakat al-Targhib, al-Risalah, Kairo,tt.133-137.

[15] Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, Edenburgh, 1960, 103.

 

[16] Dr. Aafaf, al-Mustasyriqun wa Muskila al-Hadharah, darul Nadhah al-Arabiyyah, Kairo, 1980, hal, 33-34.

[17] Edward Said, Orientalisme, Routledge and kegon poul, London and Herly, 1981, 278.

[18] Peter F. E., A Crique of their approach to Islam and Arab nasionalism, dalam the Islamic quarterly, London, 1964, vol. VIII, no. 1-2, hal. 41.

[19] al- Tibawi,A Crique of their approach to Islam and Arab nasionalism, dalam the IOslamic quarterly,. Londin, 1964, vol. VIII, no. 1-2, hal. 41.

 

 

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di pemikiran. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s