Memaknai Ukhuwah

Ukhuwah merupakan suatu pembahasan yang sangat rumit ketika menghadapi realita kehidupan umat manusia yang cenderung hedonis dan individualis khususnya umat muslim di era kontempoler, berbagai klaim kebenaran secara sepihak dalam umat islam sendiri membawa dampak pada keretakan ukhuwah dalam pondasi syariat yang telah Nabi Muhammad SAW ajarkan. Ukhuwah pada mulanya berarti ” persamaan dan keserasian dalam banyak hal”. karenanya , persamaan dalam keturunan mengakibatkan persaudaraan , persamaan dalam sifat juga mengakibatkan persaudaraan. makna terakhir ini antara lain ditunjuk oleh Firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra : 27, dalam kamus- kamus bahasa arab kata Akh juga digunakan dalam arti teman akrab atau sahabat. Dalam Al-qur’an kata akh dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali, sebagian dalam arti saudara kandung (QS.7:65), sedangkan bentuk jamak dari kata Akh dalam Al-qur’an ada dua macam :

– pertama Ikhwan yang biasanya digunakan untuk persaudaraan dalam arti tidak sekandung. Kata ini ditemukan sebanyak 22 kali sebagian digabungkan dengan kata al-adin ( QS. At-Taubah ayat 11) – Kedua , adalah kata Ikhwah yang terdapat dalam Al-qur’an sebanyak 7 kali, Keseluruhanya digunakan untuk makna persaudaraan seketurunan ( kecuali satu ayat : Innama al-mu’minuna ikhwat) (Qs. Al-Hujurat :10) Jika kita mengartikan ukhuwah dalam arti ” Persamaan” yang kemudian merujuk pada dalil Naqli kita dapat menemukan ukhuwah tersebut tercermin dalam 4 hal , yakni antara lain :

1. Ukhuwah Fi al-‘Ubudiyyah, yaitu bahwa seluruh makhluk adalah bersaudara dalam arti memiliki persamaan ( QS. 6 :38). Persamaan ini , antara lain , dalam ciptaan dan ketundukan kepada Allah SWT ( QS.Al-baqarah :28)

2.Ukhuwah Fi al-Insaniyah, ukhuwah ini mempunyai arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena kita semua berasal / bersumber dari Ayah dan Ibu yang satu ( QS.Al-Hujurat : 12) serta sabda Rasul SAW “Kunu ‘Ibad Allah Ikhwana al-‘ibad kulluhum ikhwat.”

3. Ukhuwah fi al-wathaniyah wa al-nasab. memiliki arti persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan seperti yang diisyaratkan oleh ayat Wa ila ‘ad akhahum Hud, dll

4. Ukhuwah Fi din al-islam , mempunyai arti persamaan antar sesama Muslim ( QS. Al-Ahzab ; 5) serta sabda Nabi SAW ” kalian adalah sahabat- sahabat ku, saudara- saudara kita adalah yang datang sesudah ( wafat) ku” Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam cakupan luas/ sempit adalah persamaan, semakin banyak persamaan semakin kokoh pula persaudaraan. Jika Manusia kita pandang sebagai makhluk sosial (zoon politicon) pasti hidupnya membutuhkan orang lain, dalam proses inila terjadilah interaksi sosial dengan manusia sebagai makhluk individu yang mempunyai keunikan yang berbeda – beda dengan lainya, hal inilah diperlukanya Ukhuwah sebagai pondasi yang kuat dalam membangun stabilitas sosial berdasrkan azaz gotong royong dan keadilan. Berdasarkan jejak Historis setelah pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW jika kita analisis disinilah titik renungan kita memaknai Ukhuwah pada saat itu, Perbedaan yang terjadi pada zaman para sahabat hanya berbeda pandangan orang yang pantas sebagai pengganti Nabi dalam pemerintahan, apakah dari golongan Anshar ataukah dari pihak Muhajirin. peristiwa inilah mengakibatkan jenazah Nabi SAW belum cepat untuk dimakamkan karena umat muslim masih bingung dan memperdebatkan pandangan siapakah yang berhak mendapatkan mandataris/ pengganti Nabi. Jika pada masa sahabat yang kental adalah perbedaan dalam bidang politik ( pemerintahan), maka setelah peristiwa tahkim antara ali bin abi thalib dengan Muawwiyah bin Abu sufyan terjadilah perbedaan yang mencolok dan bahkan saling mengkafirkan , hingga berdampak pada munculnya istilah Sunni (ahlussunah wal-jama’ah), Syiah, dan Khawarij ( keluar). selain itu masa Abbasiyah kita kenal dengan istilah peristiwa Mihnah , peristiwa ini adanya bentuk Legalitas/ pengesahan negara terhadap teologi negara yang dianut yakni Mu’tazilah dengan tokohnya Washil bin atha, walaupun Mu’tazilah sebagai teologi resmi Negara akan tetapi banyak sekali Teologi bandingan pada saat itu muncul yakni : Asy-ariyah (Abu Hasan asy’ari) yang merupakan murid dari Washil bin Atha , serta Teologi Maturidy. Nampaknya jejak Historis itu banyak menjalar dan meluas pada masalah furu’ antara kaidah salaf ( umat terdahulu) dengan kaidah kontempoler umat saat ini yang banyak diperdebatkan sehingga ukhuwah islamiyah semakin hancur karena arus perbedaan pandangan yang menonjol padahal bukan permasalahan ushul ( inti) tetapi kepada masalah furu’ yang banyak orang memperdebatkanya. persamaan dalam bidang akidah dan toleransi dalam bidang furu’ apabila kita fahami secara benar dan arif, pasti dapat mengantar kita kepada pemantapan ukhuwah Islamiyah, yang didasari pada : 1. Konsep Tanawwu ‘ al-ibadah, yang memberi arti pengakuan adanya keragaman yang dipraktekan Nabi SAW dalam bidang furu’ sehingga diakuai kebenaranya, dan jangan dijadikan klaim sepihak secara absolut/ mutlak kebenaran golongan terhadap golongan yang lain dalam berbeda pandangan apalagi saling mengkafirkan! 2. Al-Mukhti’ Fi al-ijtihad lahu ajar , yakni mempunyai arti yang salah pun dalam berijtihad mendapat ganjaran , disamping penentuan yang benar dan salah bukan ditangan Makhluk tapi di tangan Allah,jika hal ini difahami maka tidak akan terjadi maslah yang dinamakan Tafkir ( saling mengkafirkan) karena Allah lah sejatinya yang mempunyai hak menentukan benar/ salah untuk memberikan penilaian. 3. La hukma qabla ijtihad al-mujtahid, Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya ijtihad seorang mujtahid , sehingga hasil ijtihadnya itulah yang merupakan ketetapan hukum Allah bagi masing- masing mujtahid, walaupun berbeda- beda. Ukhuwah islamiyah (persaudaraan islam) apakah yang kita fahami dan kita gemborkan saat ini lebih mencerminkan kepada sikap persaudaraan islam atau persaudaran islami atau mungkin persaudaraan jama’ah? hemat penulis lebih condong kepada persaudaraan islami sehingga konsep ini mampu menembus dimensi spasial maupun temporal (ruang-waktu) serta lingkup pergaulan yang bersifat islami bukan kepada aspek hanya tempat berkumpulnya orang- orang islam ( tanpa makna) dan jama’ah ( kelompok ) sehingga mengesankan ukhuwah itu bersifat ekslusif dan sektarian tanpa jalan kultural yang jelas. penulis teringat akan karya Fananie Anwar ( seorang wartwan pemerhati politik islam) dalam bukunya ” Politik Islam politik Kasih sayang” disana ada kutipan yang menarik dari Hasan Al-Bana mungkin redaksinya sebagai berikut: ” Adapun masalah furu’iyah dalam umat islam tidak harus diperdebatkan, bukankah umat islam itu bersaudara? maka dimanakah letak perbedaanya? Jika mereka berbeda dengan kita seharusnya kita mengkaji apa yang mereka pelajari begitu pula dengan kita jika berbeda dengan mereka seharusnya mereka mempelajari apa yang kita fahami” pesan moral yang disampaiakn hasan Al-banna seharusnya kita renungi dan kita tanamkan dalam diri kita karena toleransi dalam masalah furu’ dan yang lainya selama satu Aqidah sejatinya kita harus saling menghargai bukan dijadikan alat untuk mencari perbedaan tetapi mencari titik temu ( persamaan) yang bisa kita ambil dengan sikap kritis /semangat untuk mencari ilmu dan menghilangkan taklid sehingga berdampak pada fanatisme buta. ^_^

Jogjakarta, 12 JUli 2011 JLn.gejayan Gg.Endra No 26

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s