Perjalanan di Negeri Legenda ( TAMAN NASIONAL UJUNG KULON)

Nama Ujung Kulon tak asing dalam indra telinga ku, negeri dongeng yang penuh legenda dan fenomena ikon dunia yang namanya dikenal, namun tak semua orang yang tahu keberadaannya. Jiwa dan raga yang membuat asa kuingin menjelajahinya sampai apa yang kuimpikan yaitu dapat melihatsang idola dunia yaitu Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Ujung Kulon yang selama ini ku kenal merupakan kawasan yang langka di dunia, hutan daerah rendah tropis yang masih tersisa, makhluk purba satu-satunya di planet bumi membuat bena ku penasaran menggebu-gebu.

Profil Badak Jawa yang ku baca menambah susunan saraf otakku untuk mengatur agar aku lebih mengenalnya sebagai ilmu yang tak ada lagi bandingannya. kehidupan dan prilaku Badak Jawa penuh dengan misteri, walaupun dengan pemantauan yang intensif telah banyak memberikan pengetahuan. Badak Jawa hewan penyendiri atau soliter ini dengan pendengaran dan penciumannya yang baik mampu mengetahui adanya hewan lain ataupun manusia, walaupun demikian penglihatannya kurang peka.

Kesempatan yang diberikan oleh teman ku yang mempercayakan agar aku ikut ke sana tak kubuang dengan sia-sia. Hasil lomba juara 1 dan 2 KIR tingkat Kabupaten melengkapi kebahagiaan ku. Keinginan yang kudambakan kini Dzt maha pengasih dan penyayang telah mengabulkannya. Rasa gelisah, gundah dan serba salah menyelimuti atmosfer suhu tubuh ku, karena kawasan TNUK sangat angker dalam daun telingaku. Namun rasa itu telah pergi yang dikalahkan oleh rasa penasaran yang tak ada lagi kesempatan kedua bagiku.

Har ipenantianpun telah tiba, Aku dan Suprianto berkumpul di Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Sambil menunggu peserta lain, ku sempat berkeliling untuk mencari tahu lagi tentang alam yang penuh fenomena itu. Keadaan Badak Jawa hanya tersebar sekitar 50-60 ekor tersisa diseluruh dunia yang tercatat sangat terancam punah dalam organisas iKonservasi Dunia (IUCN), tentu hal itu berhubungan erat dengan keberadaan habitatnya yang kurang kepedulian dari elemen masyarakat yang memakai logonya, namun tak disadari dengan kemauan untuk melestarikannya. Membaca keadaan itu membuatku merasa iba dan lebih menyayanginya, apa yang harus kulakukan ????

Perjalanan yang kami lakukan dari Labuan ke Tamanjaya, jalan wisata yang penuh ironi bagi pengunjungnya. Fasilitas jalan yang bagaikan gelombang tranversal dan longitudinal yang membentuk lembah beserta bukit dan rapatan serta renggangan, ini tak membuat ku mengurangi tekad untuk pergi ke kawasan impian. Setelah lama dalam perjalanan akhirnya kami tiba di dermaga Tamanjaya, sebelum melanjutkan perjalanan kami beristirahat sejenak sambil makan siang. Kemudian perjalanan kam ilanjutkan dengan menggunakan perahu bertenaga mesin. Hamparan laut yang sangat luas dan indah di kelilingi hutan mangrove merupakan ciri khusus dari kawasan Ujung Kulon. Surga duniawi begitu elok yang dapat membalikan lensa mata penglihatannya.Tenaga mesin dan bantuan kekuatan angin membimbing kami sampai mendarat di dermaga Pulau Handeuleum namanya. saat ku hentakan di kulit bumi Pulau Handeuleum,ku hirup udara yang memberiku kesejukan dan impian membawaku dalam kenyataan, Ujung Kulon yang mempesonakan kecantikannya membuat ku jatuh hati padanya. Belaian angin, tarian ikan-ikan yang bermukim di air laut dangkal, tumbuhan bergoyang, burung-burung bersorak ria yang menyambut kedatangan kami. Aura fenomena yang menyentuh sukma ku menyihir raga dan jiwa ini terasa bagaikan di Nirwana yang begitu mahal harganya.

Setapak demi setapak ingin rasanya ku beristirahat di tempat yang sudah tersedia.terdiam ku sejenak keluar dari pembaringan menatap cahaya matahari yang akan tenggelam menandakan hari akan sore, harusnya tak ku paksakan raga ini untuk berjalan menyusuri pesisir pantai Pulau Handeuleum, terdiam ku terbisu melihat akar yang menggantung seperti stalakmit di daerah pantai, ternyata ku baru mengetahui itu adalah akar napas yang tumbuh pada tumbuhan Bakau,Phoripera yang imut, kerang berumah bercat hijau yang cantik inginku bercumbu dengan mereka sehingga sistem koordinasi ku pun berjalan cepat. Waktu malam yang indah bertaburan bintang mewarnai jagat raya menambah kecantikan kawasan ini, malam pun di isi dengan diskusi yang dihadiri Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kab. Pandeglang, WWF Indonesia, dan Pak Uus Sudjasa. Diskusi ini membahas bagaimana perilaku Badak Jawa, dan mensosialisasikan secara persuasif tentang kepedulian terhadap Badak Jawa yang merupakan tanggungjawab elemen masyarakat. Setelah diskusi ku berlari cepat untuk jatuh ke dalam pelukan kasur yang setia menemaniku sampai fajar terbit.  Ketika mataku buka ternyata yang lain sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Badak dari tadi, hanya Aku dan Suprianto yang masih tertinggal di tempat pembaringan.

Di perjalanan menujurumah Badak, kembali lagi kami disuguhkan panorama yang memukau panca indraku, ingin rasanya kuajak menari-nari putri tumbuhan hijau yang berdansa dengan pangeran angin laut, inginku ajak bernyanyi kicauan burung yang bersenandung, sungguh menakjubkan di pandang dengan mata telanjang yang membawa asaku untuk menghampirinya lebih dekat lagi. kapal yang tak begitu besar tak mampu mendarat di mulut pantai sekitar Estuary sungai Cigenter yang terhalang oleh ribuan prajurit kerajaan karang. sehingga untuk berpijak ke rumah Badak kami harus menggunaka kano/jukung sampai ke muara sungai Cigenter. Padahal duduk manis di atas kano merupakan pengalaman baru dalam seumur hidupku. Rasa gundah seakan serba salah itu hapuslah sudah ditaklukan rasa penasaran dan keinginan yang kuat. Deburan ombak yang dibantu prajurit kerajaan angin seolah diperintah oleh raja laut untuk menjatuhkan kami kedalam negara asin yang ber-ibukota-kan Natrium dan Klorida. Tentu hal itu merupakan pengalaman hidup yang tak bisa aku lupakan sepanjang hayat. Jajaran tumbuhan seakan-akan mengantri pada barisannya membuat keheningan tempat ini, aliran sungai tak berkinetik menyambut kedatangan kami dengan senang, warna yang begitu hijau menghiasi keangkeran sungai ini, penciuman ku pun terganggu ketika menghirup parfum hasil naturalisasi hutan ini, hal ini membuat merinding bulu kuduk ku, ditambah bisikan permaisuri angin yang mencekam.

Karena dalam perjalanan kami belum dapat menemukan sang idola yang penuh fenomena di dunia itu. Kami hanya menemukan pijakan kakinya yang melintas dan bekas pakan Badak. Pakan yang dikenalkan pada kami pernah Aku melihatnya di perpustakaan dan angketyang pernah kubaca. Belum juga menemukan Badak memaksa kami untuk melakukan perjalanan melalui jalur darat dengan bantuan petugas kawasan TNUK, karena tanpa bantuan mereka kami tidak boleh memasuki daerah terlarang tersebut.

Terik matahari seakan memberikan isyarat agar aku hati-hati dalam berjalan di kawasan itu,  ketika aku berjalan sepatu Dallas yang kugunakan tercebur ke dalam lumpur yang dangkal, baju yang selalu kupakai selalu kompak dengan Suprianto itupun sobek karena serangan makhluk hijau berduri sejenis pohon salak. Namun disepanjang perjalanan kami belum dapat saja menemukan badak satu ekor pun, akhirnya sampai pada perilaku badak yaitu tempat berkubangnya, ya walaupun kubangan itu sekitar 3 hari yang lalu, menurut Pa Uus kubangan itu berfungsi untuk melindungi suhu tubuhnya dari panas dengan bantuan elemen lumpur dan elemen air.

Hati ini merasa sedih dan pilu, karena aku belum bisa melihat sang idola dunia itu, namun melihat – lihat sekitar kawasa itu saja ku sudah senang tapi belum lengkap tanpa menemukan Badak Jawa (Rhinocerossondaicus). Hamparan laut yang luas, perjalanan yang menantang, deru ombak yang kencang, konser band burung-burung yang merdu, tarian ikan-ikan yang bergoyang, kawasan sungai Cigenter yang angker, hutan mangrove yang asri penghasil oksigen bagi manusia. Hal itu sangat sulit ku lupakan. Banyak ilmu yang ku peroleh membuat diriku paling beruntung ke kawasan langka tersebut. luapan kebahagiaan yang menggebu-gebu merupakan obat penyakit kerinduanku tuk berkunjung ke TNUK lagi. Pengalam itu aku simpan dan ku jadikan daftar pustaka yang selalu ku baca dan dipelajari.

Semoga cerita pesan dan kesan ini menjadi suatu ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan keberadaan habitat Badak Jawa yangterancam punah keberadaanya menurut IUCN, karena ini adalah merupakan tanggungjawab kita semua sebagai khalifah dimuka bumi ini yang mau mengelola dan melestarikannya secara arif dan bijaksana.

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di Fiksi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perjalanan di Negeri Legenda ( TAMAN NASIONAL UJUNG KULON)

  1. winnymarch berkata:

    ujung kulon memang is the best

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s