KORUPSI DAN PERPELACURAN POLITIK

Membicarakan korupsi di negeri surgawi Indonesia,memang tiadak akhirnya. Tidak pernah basi dan selalu hangat dikosumsi publik untuk dibicarakan bagaimanacara problem tersebut segera terselesaikan. Mulai dari korupsi kuota impor daging sapi yang menyeret mantan Presiden PKS (sedang proses), korupsi DPID yang menyeret politikus Partai Amanat Nasional Wa Ode Nurhayati, Korupsi Wisma atlet juga sudah menyeret dua anggota Dewan, Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh, korupsi simulator SIM yang melibatkan Irjen Djoko Susilo, dan lain sebagainya bak korupsi menjadi virus yang menyerang dan menular terhadap mentalitas elit/pemimpin di negeri ini.

Menurut hemat sebagian orang, kata pelacur politik bisa dianologikan kepada mereka yang dianggap sebagai “Politisi korup”. Pelabelan demikian memang beralasan adanya, karena kebanyakan mereka menjajakan (menjual) harga dirinya pada tumpukan rupiah. Pelacur-pelacur politik tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat. Tapi, bagi mereka yang terfikirkan bagaimana bisa memenuhi urusan perut sendiri dan kroni-kroninya menumpuk kekayaan dari hasil uang rampokan yang jelas-jelas haram hukumnya. Tempat-tempat praktik perpelacuran politik di negeri ini tidak terlepas di areal APBN, Banggar, perpajakan, proyek pemerintah, dan dana hibah yang tidak jelas pengeluaranya, merupakan bagian wilayah atau tempat potensial mengambil berkah. Tidak hanya sampai disitu, menurut ICW kerugian negara tertinggi berdasarkan tempat terjadinya korupsi atau berdasarkan lembaga yakni berasal dari lembaga dalam jajaran pemerintah kabupaten (pemkab) dengan jumlah 264 kasus.Selanjutnya, kelembagaan dalam naungan pemerintah kota (pemkot) dengan jumlah 56 kasus, dan terakhir dalam jajaran pemerintah provinsi (pemprov) dengan jumlah 23 kasus. Kerugian negara akibat korupsi di lingkungan pemkab mencapaiRp 657,7 miliar, lembaga BUMN Rp 249,4 miliar, dan pemkot Rp 88,1 miliar (Kompas.com, Minggu, 5 Februari 2012)

Maka tidak heran jika para pelacur dan praktek perpelacuran politik biasa mangkal di tempat-tempat tersebut guna meraup keuntungan pribadi. Praktik-praktik yang digunakan cenderung manipulatif dan merekayasa rakyat dalam bentuk data-data statistik pengeluaran yang disusun seksi dan menarik. Hingga pada akhirnya rakyat kagum dan terpesona dengan polesan bedak pencitraan politisi yang tampil dengan retorika yang seksi dan hot di depan televisi. Fenomena tersebut jika merujuk pada istilah “Dramaturgi” yang diperkenalkan oleh Erving Goffman, prilaku politisi korup (koruptor) memainkan peran teater perpolitikan sarat dengan manipulatif. Mereka berusaha mengontrol diri seperti penampilan, gesture, dan retorika agar prilaku penyimpangan tidak tercium oleh publik, karena politisi tersebut faham betul menjaga citra merupakan bagian penting untuk mendulang simpati. Dengan begitu, koruptor berperan ganda, atau malah bermuka dua.

Jika ada pelacur politik, lantas adakah pelanggan dan mucikari/germo politik? Tentu jawabannya iya! Pelanggan-pelanggan para pelacur politik ini kebanyakan mereka adalah para pengusaha gelap (Kapital) atau pihak-pihak berkepentingan yang sering menggunakan jasa pelacur-pelacur politik tersebut. Mereka menggunakan jasa pelacur politik karena ada alasan simbiosis mutualisme (hutang balas budi), praktek transaksional biasanya dilakukan pada wilayah-wilayah pemenangan tender/proyek pemerintah. Pada akhirnya hasil transaksional bisa dinikmati baik para pelacur politik maupun pelanggannya. Sedangkan, “Germo Politik”,mereka adalah oknum-oknum yang mengkoordinasi para ”pelacur politik” tersebut dengan bos-bos (big Boss) di Pemerintahan.

Seorang koruptor dalam kenyataannya tidak hanya berkaitan dengan uang dan harta serta kekuasaan dan wewenang, melainkan lebih pada perilaku yang tercela (lacur) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pelacur dalam konteks sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang termarginalkan secara akses maupun aspirasi politik, keterbelakangan pendidikan, kurangya skill, yang pada akhirnya mereka melacurkan diri karena tuntutan kebutuhan ekonomi. Bandingkan dengan politisi korup! Mereka secara background sosial-ekonomi termasuk kelompok berpendidikan tinggi, bergaji besar, kebutuhan ekonomi berkecukupan, ditambah lagi dengan fasilitas yang mereka dapatkan tentunya kesejahteraan pelacur politik ini lebih baik dibandingkan pelacur sebenarnya. Seharusnya politisi korup itu harus malu! Dengan bertindak lacur!

Menanggapi akan berlangsungnya pesta demokrasi yaitu pemilu 2014, ada baiknya rakyat Indonesia harus lebih pandai memilah-milih. Jangan hanya terjebak pada citra berpeci, berjilbab, dan bersorban tapi prilakunya seperti pelacur politik alias korup. calon-calon pemimpin yang terpilih kelak haruslah tegas dalam pemberantasan korupsi. Karena selama ini supremasi hukum tindak pidana korupsi (tipikor) sangatlah tumpul. Penyeretan oknum-oknum korup ke meja hijau hanya menjerat nama-nama pelacur politik saja, sementara germo politik cenderung dikaburkan kasusnya, seperti kasus Bank Century sampai sekarang masih menyimpan misteri yang secara tidak langsung pemerintah seolah-olah melegalkan praktik pelacuran politik. Jika pada level germo politik ini cenderung dibiarkan maka dimasa yang akan datang tidak terelakan germo politik ini akan semakin leluasa menjaring pelacur-pelacur politik lainnya dengan motif seperti pemberian jabatan, bagi-bagi harta, dan kekuasaan.

Oleh karena itu, peraktik pelacuran politik ini yang mengakar kuat di level pemerintahan seyogiyanya haruslah segera diamputasi, agarsetidaknya praktik pelacuran politik bisa direduksi dan dibendung darimana arus asalnya. Maka tepatlah apa yang di ungkapakan oleh Lord Acton, seorang sejarawan Inggris menyatakan bahwa “ power tends to corrupt absolute power corrupt absolutely”. Dengan demikian dimanapun, kapanpun, siapapun, manakala ada peluang kekuasaan maka virus yang bernama “korupsi” bisa berpotensi muncul menjadi tumor yang ganas, dan menular cepat layaknya penyakit kanker kronis, menjijikan, menyengsarakan yang secara tahap demi tahap menggerogoti daya hidup dan nurani manusia.

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s