WORLD CUP DAN PILPRES

Pergelaran Piala Dunia kali ini bagi mayoritas penggila bola di Indonesia bagaikan pucuk dicinta ulam tiba. Tepat di saat pertarungan dua pasang kandidat capres-cawapres dalam pilpres 2014 mencapai titik paling menjenuhkan. Banyak orang akan begadang di rumah masing masing, nonton bareng bersama sanak keluarga, pergi ke café sambil menikmati secangkir kopi, dan tidak menutup kemungkinan Piala Dunia (World Cup) dijadikan ajang politisasi.

Ditengah hiruk-pikuk kegaduhan politik akhir-akhir ini, lambat laun kian terobati, jutaan publik akan teralihkan dengan tontonan aksi bintang-bintang sepak bola di lapangan. Keduanya memang akan mengaduk-aduk emosi kita. Dampak positif Piala Dunia telah memberi jeda kepada jutaan rakyat Indonesia dari kepenatan berita-berita tentang pilpres, sedangkan dampak negatif fenomena Piala Dunia orang-orang akan cenderung apatis terhadap politik, khususnya generasi muda (pemilih pemula) yang mayoritas penggemar berat sepak bola.

Pesta Piala Dunia sudah lama dimulai, persisnya ketika kualifikasi dimulai tahun lalu. Proses pemilihan presiden pun sudah dimulai. Ketika sejumlah negara mengumumkan skuad pemain terbaiknya yang akan dibawa berjuang di Brazil, para calon presiden kita juga sudah mulai sibuk berkoalisi menyusun barisan tim kemenangannya. Ketika para pelatih masing-masing negara tengah pusing memilih pemain, para calon presiden kita pun sedang pusing menyusun siapa yang akan dijadikan menteri ketika mereka terpilih nanti.
Memang piala dunia nun jauh di negeri Brazil sana, sedangkan prosesi Pilpres ada di Indonesia. Lantas apa hubungan keduanya? Indonesia memang tidak ada di Brazil, tapi masyarakat tetap bisa mendapatkan manfaat dari tayangan Piala Dunia 2014. Yaitu Sportivitas, persaudaraan, anti diskriminasi, anti rasisme, dan anti sentimen terhadap agama tertentu. Ketika kita menyaksikan sepak bola tidak ada perbedaan negara asal, bahasa, agama dan warna kulit. Mereka berbaur, bersorak, teriak, tertawa menikmati atraksi sepak bola. Bahkan tidak jarang menangis karena tim kesayangannya kalah, mereka pun menangis dan mengakui keunggulan lawan.
Momentum Piala Dunia 2014 ini mestinya dijadikan pelajaran oleh segenap bangsa ini dalam menyongsong pilpres. Saya kira kedua pasangan Capres-Cawapres kita pastilah mengejar kemenangan. Bedanya, kalau dalam sepak bola sportivitas dijunjung tinggi. Tidak ada saling hujat, saling fitnah, dan pembunuhan karakter. Kalaupun ada, pemain/tim yang melanggar kena sangsi yang tegas.
Di lapangan bola, kita bisa melihat masing-masing tim saling tackle, adu kontak, adu sprint, maupun saling jegal bola di kaki lawan. Itu dilakukan tidak lain untuk sebuah kemenangan tim (victory). Dalam sepak bola itu tidak mengenal istilah “dendam” Belanda tidak akan dimusuhi dan dibenci oleh negara bekas jajahannya, begitupula dengan Jerman, Inggris, Rusia, dan Jepang. Sama halnya dengan tim yang membantai lawannya dengan skor 12-0 sekalipun, mereka akan bertukar jersey, berpelukan dan bersalaman tatkala pertandingan telah selesai.
Bagaimana dalam dunia politik? Kadang yang kalah bertanding tidak legowo menerima kekalahannya, berbagai macam protes dilakukan, seperti gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), menuding pihak yang menang berkompetisi dengan curang dan lain sebaginya. Terlebih ada saja dendam yang tak berujung pangkalnya. Dalam Pilpres boleh saja masing-masing simpatisan, tim sukses dan relawan saling berdebat dan saling bertukar fikiran. Walaupun emosi meledak-ledak, debat tidak berkesudahan, tapi hati tetap tenang dan saling menghormati satu sama lain. Masing-masing kubu tidak lagi sibuk mencari-cari kekurangan lawan apalagi harus menyebar fitnah yang kejam untuk menjatuhkan lawan (black campaign).
Pencitraan yang cenderung “lebay” juga dikhawatirkan membosankan, terlebih dengan iklan-iklan di layar kaca begitu gencarnya. Pencitraan dalam politik memang perlu, sama halnya dengan gaya permainan Tiki-taka Spanyol. Atraktif, indah, tapi lama-lama tidak enak ditonton dan cenderung monoton. Bangsa ini tidak bisa dibangun hanya lewat pencitraan semata. Masyarakat tidak bisa adil, makmur dan sejahtera jika hanya mengandalkan popularitas saja.

Cara-cara tidak mendidik seperti itu hanya akan melahirkan antipasti bukan simpati, jadilah masyarakat dengan latah berkata “semua masing-masing calon sama buruknya”. Untuk itu kepada masing-masing simpatisan dan pendukung kedua calon sebaiknya lebih fokus menjemput kemenangan dengan membuat program yang realistis dan pro rakyat, bukan dengan membuang energi yang dihabiskan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Sebab masyarakat menyadari betul bahwa sesorang yang menempuh cara-cara yang tidak mendidik untuk mencapai tujuan dan ambisinya, sesungguhnya menjadi bukti riil bahwa orang demikian itu tidak yakin terhadap kemampuannya. Apalagi harus meyakinkan orang lain?

Sepak bola itu cuma dua kali putaran (90 Menit). Selebihnya adalah persaudaraan. Mestinya dunia politik kita juga sama seperti itu. Pemilihan presiden itu kurang lebih hanya 5menit ketika menyoblos. Selebihnya, mestinya, saling berangkulan. Kalau hari ini kalah, ya maju lagi 5 tahun ke depan. Sama seperti dalam sepak bola. Kalah hari ini, maka maju lagi 4t tahun kemudian untuk menjadi juara dunia.

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Pos ini dipublikasikan di artikel, Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s