BBM (BENAR-BENAR MASALAH)

bbm-pasti-naik

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas penentu keberlangsungan perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh berbagai sektor dan kegiatan ekonomi di Indonesia yang mayoritas mengandalkan BBM sebagai sumber energi dalam beraktivitas. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh entitas ekonomi tidak lepas dari penggunaan BBM, mulai dari kegiatan yang dilakukan oleh rumah tangga hingga perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi kegaduhan politik dan kontroversi di Indonesia, tak jarang kita saksikan BBM menjadi buah bibir yang mengundang perdebatan. Kenaikan BBM pada setiap periode kepemimpinan di negeri ini sudah menjadi tradisi. Dari era Soekarno sampai era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono tidak terlepas dari permasalahan klasik seputar BBM. Ketergantungan masyarakat akan BBM bersubsidi terus meningkat tiap tahunnya memberikan gambaran bahwasanya pemakaian BBM bersubsidi di lapisan masyarakat kita sangat sulit dikendalikan. Bangsa Indonesia seolah-olah dinina bobokan dengan harga BBM yang murah. Pada tahun 2007 saja beban subsidi BBM mencapai Rp 83,8 triliun, dan pada tahun 2012 mencapai Rp 137,4 triliun.

Kini, gonjang-ganjing kenaikan harga BBM mulai memanas. Dalam APBN Perubahan 2014 kuota BBM volume konsumsi BBM bersubsidi dialokasikan menjadi 46,0 juta kiloliter dengan jumlah anggaran subsidi sebesar Rp 246,5 trililiun. Jumlah itu pun telah dipangkas dari sebelumnya berkisar 48 juta kiloliter (Republika, 26/0802014). Situasi demikian menyebabkan pemerintah mengalami kegalauan dan pilihan yang serba dilematis. Kalau menambah kuota, maka jebolnya dana APBN yang sebagian besar habis untuk mensubsidi BBM. Jika tidak, maka antrian pembeli akan membanjiri di sekitar areal SPBU setiap harinya yang ditaksir akan mengganggu roda dan gerak perekonomian.
Jika merujuk pada data Kementerian ESDM, menunjukan sebanyak 25% rumah tangga dengan penghasilan terendah hanya mendapatkan 15% subsidi energi. Sementara, 25% rumah tangga dengan penghasilan tinggi justru memperoleh 77% subsidi. Kendaraan pribadi menghabiskan 53% premium, sepeda motor menyedot 40%, dan sebanyak 89 % BBM bersubsidi dinikmati transportasi darat. Sedangkan di kota-kota besar BBM bersubsidi dinikmati mobil-mobil mahal untuk pelesir. Data tersebut menunjukan bahwasannya alokasi subsidi BBM oleh pemerintah selama ini dinikmati oleh kalangan kelas ekonomi menengah-ke atas. Sementara kelas ekonomi bawah hanya segelintar orang saja yang menikmatinya. Oleh karena itu perlu adanya penghematan dan pengawasan agar sasarannya tidak melenceng dari yang seharusnya. Karena dengan semakin besarnya subsidi BBM, kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program yang berorientasi pada perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin seperti pendidikan, kesehatan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan penyediaan infrastruktur menjadi terancam dikurangi.
Pemerintah pun dihadapkan pada pilihan sulit, maju kena mundur kena. Artinya jika terus mensubsidi BBM tidak hanya menyebabkan jebolnya dana APBN, melainkan subsidi BBM selama ini tidak lah tepat sasaran, karena sebagian besar ternyata dinikmati oleh golongan borjuis. Sementara jika menaikan harga subsidi BBM tentu akan berpengaruh melonjaknya harga-harga barang secara terus menerus (inflasi). Walaupun begitu, suka tidak suka harga BBM jenis premium di Indonesia masih bisa dikatakan relatif murah dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sebagai contoh, Brunai Darussalam sekitar Rp 4.153/liter, Filipina Rp 12.673/liter, Singapura Rp 16.368/liter, dan Thailand sekitar Rp 11.502/liter (Republika, 30/08/2014).

Saat ini kita dihadapkan pada masa kritis dalam menyambut masa transisi kepemimpinan Nasional. kenaikan harga BBM subsidi tidak bisa lagi ditunda. Sebab, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, salah satunya karena dipicu impor minyak yang sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat impor minyak dan gas bumi Indonesia sepanjang semester I 2014 telah mencapai US$ 3,3 miliar. Untuk itu kita butuh pemimpin yang radikal dalam mengambil keputusan terkhusus menyangkut subsidi BBM. Karena selama ini solusi penanggulangan masalah BBM hanya sebatas instan dan menambah permasalahan lain, untuk itu perlu terobosan baru diluar kebiasaan (out of box).
Entah benar atau tidak kini rakyat butuh jawaban pasti, sambil menunggu keputusan siapakah yang mempunyai keberanian dalam mengambil kebijakan serba pahit ini. SBY atau Jokowi? Presiden SBY tentu tidak menginginkan masa akhir jabatannya memberikan kesan yang buruk dengan menaikan harga BBM, sementara Presiden terpilih yaitu Jokowi tentu akan menangunggung beban berat untuk menaikan harga BBM. Jokowi tidak punya jalan lain selain menaikan harga BBM yang merupakan alasan cukup rasional. Jika harga BBM naik, kondisi APBN kita akan sehat dan tidak terbebani oleh subsidi BBM terus-menerus, sehingga pembangunan untuk sektor lain tidak akan tersendat.

MEMBERDAYAKAN ENERGI ALTERNATIF

Ketergantungan bangsa ini akan BBM memang benar-benar konsumtif, bahkan menurut Anif Punto Utomo (Direktur Indostrategic Economic Intelligence) mengatakan subsidi BBM sudah diluar batas logika , menghabiskan seperenam dari dana APBN yang sudah tembus mencapai Rp. 2.000 Triliun. Untuk itu kita perlu mencari solusi bersama dalam menghadapi permasalahan bangsa ini terkhusus masalah energi.

Sebagaimana kita ketahui, pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia saat ini didominasi energi fosil. Minyak merupakan penyedia porsi terbesar disusul batubara dan gas, sedangkan sumber EBT (Energi Baru dan Terbarukan) masih relatif minim. Mengacu pada posisi dunia dalam bidang energi, ketersediaan BBM semakin kritis. Di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Sumber energi gas diperkirakan bertahan 42 tahun lagi dan batubara memiliki cadangan sekitar 224 tahun. Bahkan sekitar 50-60 tahun lagi energi fosil dunia diprediksikan akan habis.

Tentu dengan menaikan harga BBM akan menimbulkan gejolak yang muncul dikalangan masyarakat. Hal ini menunjukan bahwasannya selama ini bangsa Indonesai sangat tergantung pada sumber energi tak-terbarukan. Cepat atau lambat sumber energi tersebut akan habis. Untuk itu pemerintah harus lebih konsern dengan mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang dimiliki bangsa ini. Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sebesar 311.232 MW (Mega Watt), namun kurang lebih hanya 22% yang dimanfaatkan. Masyarakat Indonesia terlena dengan harga BBM yang murah, sehingga lupa untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui (renewable). Sumber energi terbarukan yang tersedia antara lain bersumber dari tenaga air ( hydro ), panas bumi, energi cahaya, biofuel, energi angin, POME dan biomassa. Kita harus belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, jangan terulang lagi kampanye Bahan Bakar Gas (BBG) yang hanya sesaat. Pengembangan energi alternatif dari sumber-sumber yang dapat diperbaharui adalah suatu keharusan. Kesungguhan dan keseriusan pemerintahan Jokowi yang akan datang dalam hal ini sangat diharapkan. Semoga!

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s