FILOSOFI KEPEMIMPINAN DALAM ISRA MI’RAJ

“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. 17. Al-Isra’ :1)

Prosesi Isra Mi’raj yang termaktub dalam QS. Al-Isra ayat 1 di atas, tidak lagi ditafsirkan  sebatas definisi  dan teologi yang kaku maupun pengertian yang hanya difahami sebagai perjalanan Muhammad di malam hari kemudian naik ke langit untuk menerima perintah shalat. Kita mesti memaknai peristiwa itu pada konteks kekinian yang lebih rill. Jika tahun Hijriyah dimaknai sebagai tonggak awal sejarah peradaban umat Islam, Fathu Makkah sebagai simbol kemenangan, maka Isra Mi’raj adalah simbol kesempurnaan iman dan spirit kepemimpinan. IsraMi’raj juga memiliki makna penting dalam ruang imajinasi umat Islam untuk mengarahkan pemahaman dan kesadaran umat beragama akan narasi agung yang memperkukuh dinamika keagamaan kita yang kini kian jauh dari kehadiran Yang Mutlak (Allah).

Atas dasar demikian, wajarlah bila momentum Isra Mi’raj kali ini begitu berharga karena bersamaan dengan tahun politik, khususnya menjelang Pilpres. Setidaknya, calon-calon presiden bisa memetik buah kearifan dari suri teladan (uswatun hasanah) Muhammad SAW, beliau adalah cahaya umat sekaligus negarawan yang mendunia.

Aspek kepemimpinan menjadi hal yang sangat urgen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini. Mengapa? Karena filosofi kepemimpinan kita berada di ujung tanduk, ibarat bom waktu yang suatu saat tiba-tiba meledak, kemudian hancur berkeping-keping.  Sebagai contoh, terungkapnya skandal suap dan korupsi sejumlah elit pejabat publik, baik di tingkatan eksekutif, legislatif,maupun yudikatif menjadi kisah pilu dan menyesakan dada betapa kian memprihatinkannya para pemimpin bangsa kita saat ini.  Fenomena tersebut jika merujuk dalam istilah William Change dikatakan telah terjadi “demoralisasi”. Lantas bagaimana kaitan antara peristiwa Isra Mi’raj dengan filosofi kepemimpinan? Jika kita renungkan,ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk memaknai peristiwa  ini dalam menangkap makna kepemimpinan dalam berbangsa dan bernegara.

Pertama, proses Tazkiyatun Nafs. Diriwayatkan sebelum nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk melakukanIsra Mi’raj, Muhammad pertama-tama dibelah dadanya kemudian dibersihkan dengan air zamzan. Dalam konteks kepemimpinan, calon pemimpin harus bersih hatinya, baik akhlaqnya, suci niatnya.  Pemimpin yang hatinya kotor, mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya, golongan dan partainya. Sedangkan rakyat hanya komoditas politik untuk mendulang suara.

Kedua, berkeadilan. Ketika dalam perjalanan Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Artinya, pemimpin harus tegas membedakan mana yang haq dan yang bathil, tidak pandang bulu dalam menegakan hukum.  Dengan demikian, perang suci melawan korupsi adalah satu-satunya perang paling sahih untuk dikumandangkan oleh bangsa ini.

Ketiga, visioner-pro rakyat. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat dari 50 menjadi 5 raka’at juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Artinya pemimpin harus mempunyai pandangan jauh kedepan dalam membuat program yang pro rakyat. Hal ini penting sebagaimana yang ditegaskan Al-Qur’an, dapat meringankan beban psikis, dan menumbuhkan optimisme menjalani hidup, bahwa di setiap kesulitan ada jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 1-6).

Keempat, low profile. Shalat sebagai bingkisan yang dibawa Muhammad dari langit adalah suatu teori kepemimpinan ideal. Shalat mendidik untuk menyucikan diri dari sifat-sifat buruk (QS al-Ankabut: 45), shalat mendidik kesatuan dan persatuan umat, shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin, mendidik keberanian mengingatkan pimpinan.Shalat mendidik persamaan hak dan egaliter. Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status sosial jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, artinya pemimpin haruslah sosok yang merakyat, sederhana, menerima krtikan dari rakyat (makmum), bijak mengambil keputusan, tidak berat sebelah yang berdampak kepada runtuhnya sendi-sendi persatuan-kesatuan umat (bangsa).

Kelima, misi pembebasan. Saya teringat akan pernyataan tokoh sufi yang terkenal yaitu Al-Hallaj “Andaikan ia mengalami Isra dan Mi’raj pun, ia takkan mau kembali lagi ke bumi”.  Pernyataan Al-Hallaj secara sepintas menggugah nurani kita bahwa sebagai pengalaman keagamaan, apa yang dialami Muhammad SAW, itu benar-benar sesuatu yang remarkabledan admirable yang menunjuk pada dua perjalanan sekaligus, naik ke langit dan kembali ke bumi. Artinya, apa yang dilakukan Muhammad tidak hanya berkutat pada urusan ibadah personal kepada Tuhan. Tetapi sebagai pemimpin, Muhammad melakukan transformasi sosial yang kaya akan visi-misi pembebasan bagi rakyatnya. Dalam bahasa Kuntowijoyo disebut humanisasi  (amar ma’ruf) dan liberasi (nahi mungkar).

Keenam, Membangun visi peradabanPasca Isra Mi’raj Muhammad melakukan hijrah ke Yastrib (Madinah), disana beliau membangun sebuah peradaban. Kepemimpinan Muhammad di Madinah dinilai sebagai kesuksesan memadukan antara nilai-nilai keislaman dengan nilai-nilai demokrasi, yang dalam bahasa Robert N. Bellah disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Beliau juga berhasil membangun negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, toleran, egaliter, religius dan damai. Wajarlah bila Michael H. Hart, menempatkan nabi Muhammad SAW diperingkat pertama orang yang berpengaruh di dunia.

Filosofi kepemimpinan MuhammadSAW haruslah  diinternalisasikan dalam jiwa-jiwa pemimpin kita saat ini. Momentum Isra’ Mi’raj dapat menggugah segenap elemen  bangsa dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan keimanan, yang pada akhirnya akan lahir sosok pemimpin (leader) yang memiliki integritas kebangsaan dan religiusitas yang luhur. Semoga!

Dimuat di Wacana Publik Radar Banten, edisi Jum’at 30 Mei 2014

“MENULIS BEKERJA UNTUK KEABADIAN”

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di artikel, Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s