QUO VADIS 16 TAHUN REFORMASI

Pada bulan  Mei 201 4 ini,  kita  sudah memasuki 16 tahun perjalanan reformasi  di Indonesia, diawali dari krisis ekonomi yang melanda Asia yang ditandai dengan krisis moneter, diikuti kerusuhan massal, hingga puncaknya demo massa dan mahasiswa, yang menduduki gedung MPR/DPR. Presiden Soeharto pun akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. Begitu terbayang dalam ingatan kita berapa harga yang harus dibayar hanya untuk sebuah reformasi. Berapa banyak nyawa yang melayang, darah bercucuran, keringat yang tertumpah hanya demi sebuah harapan memimpikan Indonesia baru yang  adil, makmur, sejahtera, dan berdaulat.

Satu hal penting dalam pengertian reformasi adalah perubahan atas sistem yang ada, artinya reformasi itu tidak pernah mulai dari titik nol. Reformasi lebih merupakan sebuah reaksi atas ketidak becusan sistem maupun regulasi yang ada. Reformasi itu menghendaki perubahan dari suatu kondisi ke arah kondisi yang lebih baik (Das Sollen). Sebagai sebuah proses, reformasi yang telah berjalan 16 tahun ini, nyatanya belum menjadikan bangsa ini meraih impiannya (Das Sein).

Memang Setiap zaman senantiasa berubah, walaupun perubahan itu tidak selamanya berdampak positif. Dalam hal ini era reformasi menjadi sebuah keharusan walaupun harus ditebus dengan pertaruhan nasib bangsa Indonesia kedepan. Lantas salahkah reformasi yang telah bergulir ini? Apakah reformasi itu sudah sesuai dengan aspirasi rakyat Indonesia? Apakah reformasi sudah mencerminkan kualitas berbangsa dan bernegara sudah baik? Ataukah reformasi yang telah berlangsung selama 16 tahun ini telah kehilangan substansinya? Inilah pertanyaan-pertanyaanyang maha berat untuk kita jawab bersama. Maka dalam hal ini,  penulis mencoba memaparkan beberapa alasan mengapa reformasi kini ada di persimpangan jalan.

Pertama, lemahnya supremasi hukum oleh pemerintah, sehingga masyarakat sulit membedakan mana kasus politik mana kasus hukum. Keduanya nampak jelas dalamruang publik tanpa mengindahkan aturan main (rule of the games) yang jelas. Mestinya hukum haruslah menjadi panglima, dan keadilan menjadi algojo. Selama ini supremasi hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Kedua, dehumanisasi elit/penjabat publik, hingga menyebabkan rakyat kehilangan kepercayaan kepada institusi pemerintah. Salah satu contoh nyata adalah kolusi, korupsi dan Nepotisme (KKN). Semisal  korupsi yang menjadi musuh utama di era Orde Baru ternyata malah makin kronis, karena kini para pejabat publik di setiap tingkatan semuanya melakukan korupsi. Otonomi Daerah (OTDA) yang alih-alih bertujuan untuk desentralisasi agar rakyat sejahtera, nyatanya OTDA hanya dimanfaatkan oleh segelintir elit untuk berkuasa, mirip seperti priyayi-priyayi antek kolonial Belanda. Demokrasi konstitusional sebagai amanat reformasi yang berjalan malah mengarah kepada “politik dagang sapi”. Sumber kapital (uang) memainkan peran utama dalam setiap perhelatan pesta demokrasi.

 Ketiga, kebebasan semu (pseudo-freedom), tidak ada masyarakat Indonesia yang tahu pasti siapa yang benar, siapa yang salah. Semua orang berbicara atas nama kebebasan berekspresi. Media tidak lagi menjadi instrument  pendidikan untuk masyarakat dalam membaca realitas, justru media hanya menjadi alat kepentinganelit politik untuk berkuasa.Sayangnya, di era “kebebasan” ini, demokrasi yang diusungnya justru hanya bisa berujungpada semangat egoisentris, pragmatisme politik tumbuh subur bak jamur tanpa visi-misi yang jelas, kebrutalan opini, semangat saling menguasai, politik saling sikut, etika ditabrak, nilai dan norma-norma kepatutan ditubruk. Dalam hal ini,  benar apa yang disampaikan  Gidden, ia berpendapat walaupun optimisme terhadap demokrasi tetap tinggi, namun telah terjadi penurunan kepercayaan yang signifikan terhadap politisi.

Dalam rangka  memasuki momentum pemilihan presiden yang akan digelar pada tanggal 9 Juli 2014, ini mejadi hal yang sangat penting dalam kontekstualisasi isu maupun wacana di era reformasi. Kita berharap dimana proses pembelajaran dan pengenalan masyarakat untuk menentukan pilihannya dalam menimbang/menilai apakah figur-figur calon pemimpin benar-benar baik atau tidak untuk memimpin bangsa dan negara ke depan. Saat ini kita butuh kehadiran sosok Satria  Piningit apa yang diramalkan oleh raja Jayabaya agar mampu membawa Negara yang kita cintai ini keluar dari berbagai macam krisis. Memang setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya, maka reformasi telah mengamanatkan bahwa Presiden hanya berkuasa dua priode dan pemilihannya  dilakukan secara langsung melalui Pemilu Presiden yang dijamin jujur, bebas, kridebel dan bertanggung jawab.

Untuk itu, kiranya 16 Tahun Reformasi dan momentum Pemilihan Presiden 2014 ini  menjadi momentum bagi rakyat Indonesia untuk partisipasi memilih pemimpin berkarakter negarawan yang berani mengambil resiko di setiap kebijakan, jujur melaksanakan amanahnya, dan ikhlas melayani rakyatnya. Dalam konteks ini golput hanya melemahkan demokrasi. Partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres kali ini sangat menentukan kualitas demokrasi yang melahirkan sosok negarawan sejati. Semakin besar angka GOLPUT, semakin lemah pula legitimasi politik pemimpin yang dilahirkan.  Dan siapapun pemimpin yang terpilih di era reformasi saat ini, semoga nasib bangsa Indonesia lebih baik lagi menuju Baldatun Thoyyibatun Warobun Ghoffur, amin.

Tulisan ini dimuat dalam wacana publik Radar Banten edisi jum’at, 22 Mei 2014

“MENULIS BEKERJA UNTUK KEABADIAN”

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di artikel, Kenegaraan, Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s