REFLEKSI 69 TAHUN HUT RI: ANTARA SEJARAH DAN KENYATAAN

Kemerdekaan Indonesia tidak terjadi dengan sendirinya,tapi ada sebab-akibat (kausalitas) peristiwa yang menyertainya. Berawal dibom atomnya kota Hiroshima oleh sekutu  pada tanggal 6 Agustus 1945, sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai, berganti nama menjadi PPKI (PanitiaPersiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, Badan ini bertujuan untuk lebih menegaskan keinginan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di kota Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika Serikat dan sekutunya pada tanggal 14Agustus 1945 (sumber lain mengatakan tanggal 15 Agustus 1945).

Berita kekalahan Jepang itu terdengar oleh golongan muda melalui saluran radio BBC, golongan muda mendesak Soekarno selaku golongan tua agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan. Desakan pemuda itu bukan tanpa alasan, karena jika tidak segera diproklamirkan ditakutkan sekutu mengambil alih wilayah jajahan Jepang yaitu Indonesia. Ditambah terjadinya vacuum of power (kekosongan kekuasaan) di Indonesia, situasi seperti inilah yang menurut pemuda perlu dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia. Tapi, golongan tua lebih bersikap kooperatif dan berhati-hati mengambil keputusan agar tidak terjadi pertumpahan darah antara rakyat Indonesia dengan militer Jepang yang dianggap masih kuat. Atas perbedaan pandangan sikap inilah menyebabkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Akhirnya perbedaan pendapat itu menemui kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 (bertepatan dengan bulan suci ramadhan).

Penggalan sejarah di atas telah memberikan bukti nyata bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai hasil dari usahanya sendiri, bukan pemberian hadiah dari bangsa Asing. Untuk itu, tahun ini Indonesia kembali merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-69. Disamping diramaikan dengan berbagai ucapan selamat dan doa juga selalu mendorong munculnya berbagai pernyataan harapan mengenai masa depan serta renungan dari berbagai kalangan.

KEHILANGAN MAKNA

Secara historis memang bangsa ini telah merdeka dan berdaulat, tapi dalam kenyataannya masih jauh dari harapan. Bahkan,menyimpang lebih jauh dari makna proklamasi yang sebenarnya. Jika usia 69 dipersonifikasikan dengan usia manusia, 69 tahun adalah usia yang mulai senja, yang rentan terhadap segala macam bentuk penyakit dan mudah pikun. Begitupula dengan kondisi bangsa kita saat ini sedang sakit mental dan pikun terhadap sejarah bangsanya sendiri.

Semboyan “ Merdeka atau Mati” membuat darah dan semangat seluruh rakyat Indonesia mendidih  dan bergolak. Bahkan tidak sedikit rakyat di negeri ini yang meneteskan air mata. Semboyan tersebut menggambarkan betapa bangsa ini telah meraih kemerdekaan dengan keringat, harta dan darah para pejuang.  Faktanya selama 69 tahun bangsa ini merdeka, rakyat masih dijajah segelintir elit yang mengatas namakan”rakyat”. Rakyat negeri ini masih bergelimang kemiskinan, diselimuti awan kelam kebodohan, dan penderitaan teramat menyakitkan.

Tawuran antar pelajar, free sex, mabuk-mabukan, nyimeng, kenakalan remaja , dan hedonisme adalah potret buram generasi muda kita saat ini. Padahal mereka-mereka inilah sebagai iron stock dan pewaris bangsa. Artinya, jika ingin melihat maju atau tidaknya suatu bangsa maka lihatlah generasi mudanya. Dipundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan. Kita harus sadar, bahwa kita bukanlah penumpang gelap, bukan penumpang gratis (free riders) di dalam negara dan bangsa Indonesia ini. Kita sama-sama memiliki andil. Karena itu kita sebagai kaum muda penerus bangsa juga ikut memiliki hak untuk menentukan ke arah mana negara ini hendak di bawa.

Dalam bidang birokarasi kita rasakan masih buruk, tidak sedikit para penjabat birokrasi pusat maupun daerah seperti sistem feodal. Ada upeti dari sana-sini, anti kritik dan cenderung mempertahankan status quo. Jika mentalitas penjabat seperti itu, apa bedanya dengan gaya pemerintahan kolonial Hindia-Belanda?  Sementara itu, prilaku koruptif tidak jauh berbeda dengan penjajah, sama-sama mengambil yang bukan haknya. Menindas, memeras, dan menyelewengkan kepercayaan. Hal inimenujukan bahwa kultur  warisan kolonial masih melekat dalam mentalitas bangsa kita saat ini

Kita menyaksikan penyelundupan barang-barang dari luar yang kemudian dijual murahdan mematikan produk warga bangsanya sendiri, globalisasi dan pasar bebas ternyata dapat menguburkan nilai nilai kemanusiaan dan keadilan. Asset bangsa dan Sumber Daya Alam (SDA) dengan mudah tergadai ke investor asing, tanpa memikirkan kesejahteraan anak cucu bangsa dimasa depan. Ketergantungan kepada negara Asing dalam segala aspek kehidupan terutama bidang ekonomi sangat memprihatinkan. Jika orang Asing menjadi tuan di negeri ini, sementara orang Indonesia menjadi budak di negerinya sendiri, apakah ini makna dari merdeka?

Kita harus bangga, bahwa bangsa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah dan ditunjang dengan multi etnis, beragam budaya dan agama (majemuk). Seharusnya kita bersyukur bahwa hingga saat ini kita masih bersatu sebagai bangsa dan negara Indonesia. Lantas apakah kedepan bangsa ini akan utuh? Entahlah! Hal itu tidak menutup kemungkinan bangsa yang besar ini akan bercerai berai. Sebagai contoh: pecahnya India dengan Pakistan, dan runtuhnya negara super power seperti Uni  Soviet pada tahun 90-an adalah cerminan bahwa disintegrasi bangsa  yang besar seperti Indonesia akan terjadi. Tanda-tanda dan gejala demikian bisa kita lihat seperti gerakan spratisme yang kecewa kepada pemerintah karena kurang memperhatikan pembangunan dan kesejahteraan ekonomi (Jawa sentris), konflik politik tak bekesudahan, hal itu disebabkan karena faktor gradasi kepentingannya terlalu banyak. Belum lagi perang antar agama yang kurang menghargai perbedaan. Seandainya saja arwah para pahlawan bisa melihat wajah Indonesia hari ini, tentulah mereka akan menangis. Karena kita telah lalai dan melupakan sejarah pengorbanan umat terdahulu.

Oleh karena itu persatuandan kesatuan (nasionalisme) di era sekarang hanyalah sekedar semboyan. Karena pada kenyataannya ego sektoral, primordialisme, dan sukuisme lebih menonjol daripada identitas kebangsaan. Persatuan dan kesatuan tidak lagi dipandang sebagai “Die au einer Schicksalsgemeinschaft erwachsende Charaktergemeinschaft”, yaitu “komunitas karakter yang berkembang dari komunitas pengalaman bersama”. Atas dasar demikian, wajarlah bila Ben Anderson (seorang Indonesianis) mengkritik tajam bahwasannya nasionalisme Indonesia hanyalah sebuah nasionalisme imajinatif (abstrak).

Pembangunan kebudayaan di negara ini lebih memprihatinkan lagi bila ditinjau dari segi karakter dan kepribadian bangsa. Arus penyebaran  informasi yang cepat dengan dukungan teknologi modern serba canggih menyebabkan pertukaran budaya, adat istiadat dan gaya hidup sehari-hari tanpa batas dan filter yang ketat. Hasilnya adalah pola hidup dan berkehidupan bangsa generasi pasca-kolonial sangat jauh dari nilai-nilai kepribadian bangsa yang luhur, adiluhung dan berbudi pekerti. Pembangunan di bidang kesenian condong berkiblat pada trend Asing dan celakanya dianggap lebih modern dan bagus dibandingkan seni budaya Indonesia yang otentik.

Problematika bangsa apa yang penulisutarakan di atas, adalah tanggung jawab dan pekerjaan rumah untuk kita jawab bersama. Momentum HUT RI ke-69 ini mestinya tidak hanya dimaknai sekedar seremonial tahunan. Tapi, kita harus memaknai pesan, serta mampu menjawab persoalan dan mengambil peran dalam mengisi kemerdekaan. Untuk itudiperlukan semangat, kerja keras dan langkah-langkah strategis di luar kebiasaan (out of box) dalam rangka mempercepat tujuan pembangunan sesuai platform dari pendiri bangsaIndonesia. Sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, berdaulat, adil dan makmur. Semoga!

*Dimuat dalam kolom opini wacana publik Radar banten edisi Senin, 18 Agustus 2014″

Tentang faqihpembebas

Jika SAHABAT bisa diartikan dalam ilmu NAHWU, maka jadilah seperti LAA NAFI yang tidak berpengaruh buruk pada temanmu sehingga menjadikannya berubah. Jadilah seperti NUN TAUKIT yang selalu menguatkan dan janganlah seperti MUDHOF ILAIH yang bergantung pada orang lain, tapi jadilah seperti QOD yang selalu bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita yang setinggi angkasa. Dan janganlah kamu egois seperti AMIL NAWASIKH yang suka memutus atau merusak persahabatan, maka jadilah seperti HURUF ATOF yang bisa menyambung tali persaudaraan dengan kejujuran dan kekompakan.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di artikel, Kenegaraan, Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s